Sunday, November 3, 2013

Portofolio 2

A. Pengorganisasian Struktur Manajemen
1. Pengertian Struktur Organisasi
   struktur adalah suatu cara yang disusun atau dibangun untuk suatu tujuan tertentu , sedangkan organisasi adalah suatu wadah untuk tempat berkumpulnya minimal dua orang atau lebih untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
jadi, struktur Organisasi adalah Suatu susunan dan hubungan antara tiap bagian secara posisi yang ada pada perusahaaan dalam menjalin kegiatan operasional untuk mencapai tujuan.
 contoh bagan struktur organisasi Pusdiklat

Pengorganisasian sebagai fungsi dari manajemen
Fungsi dari manajemen  menurut beberapa ahli :
a. Henry Fayol
Henry Fayol pada awal abad ke-20. Ketika itu, ia menyebutkan lima fungsi manajemen, yaitu merancang, mengorganisir, memerintah, mengordinasi, dan mengendalikan. Namun saat ini, kelima fungsi tersebut telah diringkas menjadi tiga yaitu :
1.      Perencanaan (planning)
2.      Pengorganisasian (organizing)
3.      Pengarahan (directing)  
 
Menurut George R. Ferry (1990) dalam “Principles of Management”, proses manajemen terbagi menjadi :
     • Perencanaan (Planning).
     • Pengorganisasian (Organizing).
     • Pengawasan (Controlling).
     • Pelaksanaan (Activating).

berdasarkan pendapat diatas , organisasi terlihat sebagai fungsi yang cukup penting bagi manajemen, dengan Organizing dimaksud mengelompokan kegiatan yang diperlukan, yakni penetapan susunan organisasi serta tugas dan fungsi-fungsi dari setiap unit yang ada dalam organisasi, serta menetapkan kedudukan dan sifat hubungan antara masing-masing unit tersebut.
Organisasi atau pengorganisasian dapat pula dirumuskan sebagai keseluruhan aktivitas manajemen dalam mengelompokan orang-orang serta penetapan tugas, fungsi, wewenang, serta tanggung jawab masing-masing dengan tujuan terciptanya aktivitas-aktivitas yang berdaya guna dan berhasil guna dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan terlebih dahulu.
Struktur dalam organisasi dibagi menjadi dua yaitu :
a) Struktur Formal
Hubungan-hubungan antar pribadi didalam organisasi formal digambarkan jelas tidak tergantung pada kebutuhan-kebutuhan mereka.
dalam hal kepemimpinan para pemimpin dirancang dan ditentukan dalam formal serta muncul dan dipilih dalam informal. organisasi  formal mengendalikan perilaku karyawan melalui penghargaan dan hukuman.
b) Struktur Informal
Struktur informal adalah hubungan pribadi dalam organisasi yang mempengaruhi putusan di dalam organisasi tersebut tetapi ditiadakan dari skema formal dan tidak sesuai dengan struktur formal organisasi.
Organisasi informal tumbuh karena berbagai faktor baik ekstern (pendidikan, umur, senioritas, jenis kelamin, latar belakang etnis dan kepribadian), maupun intern (jabatan, upah, jadwal kerja, mobilitas, dan simbol status)
 Manfaat Struktur Fungsional dan Struktur Divisional
Struktur fungsional
Dalam struktur organisasi fungsional, setiap manajer yang mempunyai  spesialisasi fungsional menggantikan tempat dan peranan si pemilik perusahaan.   Transisi menuju spesialisasi ini membutuhkan sebuah perubahan substansial dalam gaya manajemen pimpinan perusahaan. Sebagai organisasi yang  menumbuhkan dan mengembangkan sejumlah produk dan pasar yang berkaitan, struktur organisasi ini secara teratur berubah untuk merefleksikan spesialisasi yang lebih besar. Untuk mengetahui  format struktur organisasi fungsional, lihat gambar berikut.
Struktur Organisasi Fungsional
 
 
Sumber : Samuel C. Certo & J.Paul Peter, Strategic Management, McGraw-Hill, 1990, p.125.

           
Struktur organisasi fungsional ini mempunyai  beberapa kelebihan, antara lain:
  • Efisiensi melalui spesialisasi
  • Komunikasi dan jaringan keputusannya relatif sederhana
  • Mempertahankan tingkat pengendalian strategi pada level manajemen puncak
  • Dapat mendelegasi keputusan operasional sehari-hari
  • Mempermudah pengukuran output dan hasil dari setiap fungsi

Sedangkan kekurangan dari struktur organisasi fungsional adalah:
  • Menyebabkan spesialisasi yang sempit
  • Dapat mendorong timbulnya persaingan dan konflik antar fungsi
  • Mengakibatkan sulitnya koordinasi di antara bidang-bidang fungsional
  • Dapat menyebabkan tingginya biaya koordinasi antar fungsi
  • Identifikasi karyawan dengan kelompok spesialis dapat membuat perubahan menjadi sulit
  • Membatasi pengembangan keterampilan manajer yang lebih luas

Struktur Divisional
Ketika perusahaan berkembang,  perusahaan mulai memfokuskan perhatiannya pada pengelolaan berbagai lini produk di berbagai industri dan mendesentralisasikan wewenangnya dalam pengambilan keputusan. Ketika perusahaan mulai melakukan akuisisi dan mengembangkan berbagai produk baru dalam industri dan pasar yang berbeda, biasanya mengubah strukturnya menjadi  struktur organisasi yang terdiri dari beberapa  divisi. Tiap-tiap divisi dapat beroperasi sendiri-sendiri dibawah pengarahan seorang manajer divisi yang bertanggungjawab langsung kepada CEO. Dalam struktur organisasi divisional, manajer divisi dapat mengembangkan strategi untuk masing-masing divisinya dan mungkin saja mereka menghadapi persaingan yang berbeda dengan divisi lainnya sehingga strategi yang ditempuh mungkin juga berbeda dengan divisi lainnya. Pada organisasi divisional, divisi-divisi tersebut dapat menjadi tempat yang baik untuk melatih para manajer muda. Selain itu juga merupakan tempat yang baik  dalam mengembangkan intuisi kewiraswastaan serta meningkatkan sejumlah pusat inisiatif dalam suatu perusahaan. Untuk mengetahui format struktur organisasi divisional, perhatikan  gambar berikut.
Struktur Organisasi Divisional

Sumber : Samuel C. Certo & J.Paul Peter, Strategic Management, McGraw-Hill, 1990, p.125.

Sebagaimana struktur organisasi yang lain, struktur organisasi divisional ini juga  mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan. Adapun kelebihan  struktur organisasi divisional antara lain:
  • Koordinasi antarfungsi menjadi lebih mudah dan cepat
  • Mempunyai fleksibilitas pada struktur perusahaan
  • Spesialisasi pada setiap divisi dapat dipertahankan
  • Kesempatan karir lebih terbuka
  • Menimbulkan kompetisi di dalam organisasi
  • Beban rutin CEO berkurang sehingga mempunyai waktu untuk keputusan strategis
 
Sedangkan kekurangan  struktur organisasi divisional antara lain:
  • Mengkibatkan turunnya komunikasi antara spesialisasi funsional
  • Sangat potensial untuk menimbulkan persaingan antar  divisi
  • Pendelegasian yang besar dapat menimbulkan masalah
    B. Actuating Dalam Manajemen
    Pengeritan Actuating Management
    Dari seluruh rangkaian proses manajemen, pelaksanaan (actuating) merupakan fungsi manajemen yang paling utama. Dalam fungsi perencanaan dan pengorganisasian lebih banyak berhubungan dengan aspek-aspek abstrak proses manajemen, sedangkan fungsi actuating justru lebih menekankan pada kegiatan yang berhubungan langsung dengan orang-orang dalam organisasi
    Dalam hal ini, George R. Terry (1986) mengemukakan bahwa actuating merupakan usaha menggerakkan anggota-anggota kelompok sedemikian rupa hingga mereka berkeinginan dan berusaha untuk mencapai sasaran perusahaan dan sasaran anggota-anggota perusahaan tersebut oleh karena para anggota itu juga ingin mencapai sasaran-sasaran tersebut.
    Dari pengertian di atas, pelaksanaan (actuating) tidak lain merupakan upaya untuk menjadikan perencanaan menjadi kenyataan, dengan melalui berbagai pengarahan dan pemotivasian agar setiap karyawan dapat melaksanakan kegiatan secara optimal sesuai dengan peran, tugas dan tanggung jawabnya. Hal yang penting untuk diperhatikan dalam pelaksanan (actuating) ini adalah bahwa seorang karyawan akan termotivasi untuk mengerjakan sesuatu jika :
    (1) Merasa yakin akan mampu mengerjakan,
    (2) Yakin bahwa pekerjaan tersebut memberikan manfaat bagi dirinya,
    (3) Tidak sedang dibebani oleh problem pribadi atau tugas lain yang lebih penting, atau mendesak,
    (4) Tugas tersebut merupakan kepercayaan bagi yang bersangkutan dan
    (5) Hubungan antar teman dalam organisasi tersebut harmonis.
    Fungsi Pengarahan (Actuating)
         Pengarahan merupakan hubungan manusia dalam kepemimpinan yang
    mengikat para bawahan agar bersedia mengerti dan menyumbangkan tenaganya
    secara etektit serta efisien dalam pencapaian tujuan suatu organisasi. Di dalam
    manajemen, pengarahan ini bersifat sangat kompleks karena disamping menyangkut
    manusia juga menyangkut berbagai tingkah laku dari manusia-manusia itu sendiri.
         Manusia dengan berbagai tingkah lakunya yang berbeda-beda. Ada beberapa prinsip
    yang dilakukan oleh pimpinan perusahaan dalam melakukan pengarahan yaitu :
    1.  Prinsip mengarah kepada tujuan
    2.  Prinsip keharmonisai dengan tujuan
    3. Prinsip kesatuan komando
         Pada umumnya pimpinan menginginkan pengarahan kepada bawahan dengan
    maksud agar mereka bersedia untuk bekerja sebaik mungkin, dan diharapkan tidak
    menyimpang dari prinsip-prinsip di atas.
    Cara-cara pengarahan yang dilakukan dapat berupa :
    1. Orientasi
    Merupakan cara pengarahan dengan memberikan informasi yang perlu supaya
    kegiatan dapat dilakukan dengan baik.
    2. Perintah
    Merupakan permintaan dri pimpinan kepada orang yang berada di bawahnya
    untuk melakukan atau mengulangi suatu kegiatan tertentu pada keadaan
    tertentu.
    3. Delegasi wewenang
    Dalam pendelegasian wewenang ini pimpinan melimpahkan sebagian dari
    wewenang yang dimilikinya kepada bawahannya.
Menurut Kurniawan (2009) prinsip-prinsip dalam penggerakan/actuating antara lain:
·        Memperlakukan pegawai dengan sebaik-baiknya
·        Mendorong pertumbuhan dan perkembangan manusia
·        Menanamkan pada manusia keinginan untuk melebihi
·        Menghargai hasil yang baik dan sempurna
·        Mengusahakan adanya keadilan tanpa pilih kasih
·        Memberikan kesempatan yang tepat dan bantuan yang cukup
·        Memberikan dorongan untuk mengembangkan potensi dirinya

Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Struktur_organisasi
http://www.manajemenn.web.id/2011/07/struktur-organisasi-informal.html
http://machdans-manajemen.blogspot.com/2011/06/actuating.html
http://www.ut.ac.id/html/suplemen/ekma5309/fproses_certob2.htm
http://www.ut.ac.id/html/suplemen/ekma5309/fproses_certob3.htm
http://denisarbiyanto.blogspot.com/2011/09/pengertian-organisasi-manajemen-dan.html
http://nonvivit.blogspot.com/2013/10/prinsip-actuating-dan-mencapai.html

Sunday, October 13, 2013

Portofolio 1 : Psikologi Manajemen

Pengantar 
Manajemen  merupakan cabang dari ilmu ekonomi . Kata manajemen mungkin berasal dari bahasa Italia (1561) yaitu maneggiare yang berarti "mengendalikan," terutama dalam konteks mengendalikan kuda, yang berasal dari bahasa latin manus yang berarti "tangan". Bahasa Perancis lalu mengadopsi kata ini dari bahasa Inggris menjadi ménagement, yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur.
  a. Definisi Manajemen 
      Berikut adalah beberapa definisi menurut beberapa ahli :
  •  R.Terry : Manajemen merupakan suatu proses khas yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengendalian yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumberdaya manusia dan sumberdaya lainnya.
  • Mary Parker Folle : Manajemen adalah suatu seni, karena untuk melakukan suatu pekerjaan melalui orang lain dibutuhkan keterampilan khusus. Hal ini berarti bahwa seorang manajer bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi.
  • Encylopedia of the Social Science : Manajemen adalah suatu proses dengan mana pelaksanaan suatu tujuan tertentu diselenggarakan dan diawasi.
  • Ricky W. Griffin : Manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal.
  • Henry Fayol : Manajemen mengandung gagasan lima fungsi utama yaitu , merancang, mengorganisasi, memerintah, mengoordinasi, dan mengendalikan. 
Bagaimanapun para ahli berpendapat secara singkat dapat kita simpulkan bahwa manajemen adalah seni dan ilmu yang dapat berfungsi untuk mengorganisasi, koordinasi maupun melakukan pengkontrolan untuk mencapai suatu tujuan.

  b. Definisi Kepemimpinan
     Berikut beberapa definisi kepemimpinan menurut beberapa ahli ;
  • George R. Terry (yang dikutip dari Sutarto, 1998 : 17)
    Kepemimpinan adalah hubungan yang ada dalam diri seseorang atau pemimpin, mempengaruhi orang lain untuk bekerja secara sadar dalam hubungan tugas untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
  • Kartini Kartono (1994 : 48)
    Kepemimpinan itu sifatnya spesifik, khas, diperlukan bagi satu situasi khusus. Sebab dalam suatu kelompok yang melakukan aktivitas¬aktivitas tertentu, dan mempunyai suatu tujuan serta peralatan¬peralatan yang khusus. Pemimpin kelompok dengan ciri-ciri karakteristik itu merupakan fungsi dari situasi khusus.
  • John W. Gardner (1990)
    Kepimpinan sebagai proses Pemujukan di mana individu-individu meransang kumpulannya meneruskan objektif yang ditetapkan oleh pemimpin dan dikongsi bersama oleh pemimpin dan pengikutnya.
  c. Contingency Theory Fiedler
  Teori situasional kontingensi Fiedler menyatakan bahwa efektivitas kelompok tergantung pada kesatuan yang tepat antara gaya pemimpin ( pada dasarnya ukuran trait ) dan tuntutan situasi. Fiedler menganggap kontrol situasional yaitu sejauh mana seorang pemimpin dapat menentukan apa yang akan kelompok mereka lakukan untuk menjadi faktor kontingensi utama dalam menentukan efektivitas perilaku pemimpin .
Model kontingensi Fiedler adalah model dinamis dimana karakteristik pribadi dan motivasi pemimpin dikatakan berinteraksi dengan situasi saat kelompok menghadapinya . Dengan demikian, model kontingensi menandai pergeseran jauh dari kecenderungan untuk atribut efektivitas kepemimpinan dengan kepribadian sendiri ( Forsyth , 2006) .


Menurut Fiedler, ada tiga faktor utama yang mempengaruhi kesesuaian situasi dan ketiga faktor ini selanjutnya mempengaruhi keefektifan pemimpin. Ketiga faktor tersebut adalah hubungan antara pemimpin dan bawahan (leader-member relations), struktur tugas (the task structure) dan kekuatan posisi (position power). 

Gaya kepemimpinan fiedler :
  • Kepemimpinan berorientasi-tugas
  • Kepemimpinan berorientasi-hubungan 
Faktor-faktor situasional :
  • Hubungan pemimpin-anggota 
  • Struktur tugas 
  • Position power
Hubungan antara pemimpin dan bawahan menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin itu dipercaya dan disukai oleh bawahan, dan kemauan bawahan untuk mengikuti petunjuk pemimpin. Sedangkan mengenai struktur tugas harus menjelaskan sampai sejauh mana tugas-tugas dalam organisasi didefinisikan secara jelas dan sampai sejauh mana definisi tugas-tugas tersebut dilengkapi dengan petunjuk yang rinci dan prosedur yang baku. Kekuatan posisi(position power) menjelaskan sampai sejauh mana kekuatan atau kekuasaan yang dimiliki oleh pemimpin karena posisinya diterapkan dalam organisasi untuk menanamkan rasa memiliki akan arti penting dan nilai dari tugas-tugas mereka masing-masing. Kekuatan posisi juga menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin misalnya menggunakan otoritasnya dalam memberikan hukuman dan penghargaan, promosi dan penurunan pangkat (demotions).
Contohnya dalam kehidupan sehari-hari adalah Ketua umum organisasi "A" akan mengumpulkan anggota-anggotanya untuk mengambil suatu keputusan apabila akan mengadakan kegiatan baksos ke suatu tempat yang terkena bencana alam. Hal itu dimaksudkan agar apa yang menjadi keputusan anggota-anggotanya dapat membantu ketua untuk mengambil keputusan apa yang dibutuhkan untuk kegiatan tersebut sehingga kegiatan tersebut dapat berjalan dengan baik. Walaupun apa yang sudah dibahas oleh anggota-anggotnya akan dipertimbangkan lagi oleh ketua dan hal tersebut akan sangat membantu.

  d. Model Kepemimpinan Normatif Vroom & Yetton
Vroom & Yetton mengembangkan tujuh gaya (dari A sampai G) pembuatan keputusan manajemen dengan memberikan 13 alternatif saran mana yang cocok diterapkan dalam situasi yang berbeda. Artinya, dengan melihat situasi disarankan keputusan gaya yang cocok.
Berikut ini disajikan lima gaya pengambilan keputusan yang disarankan Vroom & Yetton lengka dengan tingkat partisipasi bawahannya.
Gaya 1. Tetapkan keputusan sendiri dengan menggunakan informasi yang ada saat itu. Partisipasi bawahan tidak ada.
Gaya 2. Dapatkan informasi dari bawahan dan selesaikan masalah oleh kita sendiri. Tidak perlu memberitahukan kepada bawahan apa yang menjadi masalah ketika meminta informasi kepada mereka, peran yang diharapkan dari bawahan hanya merupakan sumber informasi dan bukan mengemban alternative penyelesaian. Partisipasi bawahan rendah.
Gaya 3. Ikut sertakan bawahan yang bersangkutan dengan masalah, minta ide dan sarannya secara sendiri-sendiri. Kemudian ambil keputusan, baik sendiri atau tidak disertai pengaruh dan saran-saran bawahan. Partisipasi bawahan sedang.
Gaya 4. Ikut sertakan bawahan sebagai satu kelompok, dapatkan ide dan saran dari mereka. Kemudian ambil keputusan sendiri disertai pengaruh dan saran bawahan. Partisipasi bawahan tinggi.
Gaya 5. Ikut sertakan bawahan sebagai suatu kelompok dalam memecahkan masalah. Bersama mereka kembangkan dan evaluasi alternatif. Usahakan mencapai consensus. Anda sebagai pemimpin berperan sebagai ketua. Tidak dibenarkan mempengaruhi kelompok dengan apa yang hendak anda putuskan dan anda bersedia untuk menerima dan melaksanakan setiap keputusan kelompok. Partisipasi bawahan sangat tinggi.
Gambar berikut menyajikan alternatif saran mana yang cocok untuk mengambil keputusan diterapkan dalam situasi yang berbeda.

   e. Path-Goal theory
     
Path-Goal Theory atau model arah tujuan ditulis oleh House (1971) menjelaskan kepemimpinan sebagai keefektifan pemimpin yang tergantung dari bagaimana pemimpin memberi pengarahan, motivasi, dan bantuan untuk pencapaian tujuan para pengikutnya. Path-Goal Theory, berpendapat bahwa efektifitas pemimpin ditentukan oleh interaksi antara tingkah laku pemimpin dengan karakteristik situasi (House 1971).
1.      Menurut House, tingkah laku pemimpin dapat dikelompokkan dalam 4 kelompok:
Supportive leadership (menunjukkan perhatian terhadap kesejahteraan bawahan dan menciptakan iklim kerja yang bersahabat)
2.  Directive leadership (mengarahkan bawahan untuk bekerja sesuai dengan peraturan, prosedurdan petunjuk yang ada),
3.   Participative leadership (konsultasi dengan bawahan dalam pengambilan keputusan)
4.  Achievement-oriented leadership (menentukan tujuan organisasi yang menantang dan menekankan perlunya kinerja yang memuaskan).
Menurut Path-Goal Theory, dua variabel situasi yang sangat menentukan efektifitas pemimpin adalah karakteristik pribadi para bawahan/karyawan dan lingkungan internal organisasi seperti misalnya peraturan dan prosedur yang ada. Walaupun model kepemimpinan kontingensi dianggap lebih sempurna dibandingkan modelmodel sebelumnya dalam memahami aspek kepemimpinan dalam organisasi, namun demikian model ini belum dapat menghasilkan klarifikasi yang jelas tentang kombinasi yang paling efektif antara karakteristik pribadi, tingkah laku pemimpin dan variabel situasional.
Contohnya : Seorang direktur akan mengadakan rapat terlebih dahulu jika akan menjalin hubungan kerja dengan perusahaan lain. Sehingga dengan demikian sang direktur akan meminta bawahannya untuk mengadakan rapat dan membahas tentang apa yang akan dipresentasikan di depan kliennya. Dan setelah itu sang direktur pun akan memutuskan dan memberikan perintah kepada bawahannya untuk bekerja semaksimal mungkin akan pekerjaan tersebut dan sesuai apa yang telah diperintahkan.

Perencanaan , Penetapan dan Manajemen 
a. Definisi Perencanaan Manajemen
Perencanaan merupakan salah satu fungsi pokok manajemen yang pertama harus dijalankan. Sebab tahap awal dalam melakukan aktivitas perusahaan sehubungan dengan pencapaian tujuan organisasi perusahaan adalah dengan membuat perencanaan.
Perencanaan manajemen dikemukakan oleh Erly Suandy (2001:2) sebagai berikut :
“Secara umum perencanaan merupakan proses penentuan tujuan organisasi (perusahaan) dan kemudian menyajikan (mengartikulasikan) dengan jelas strategi-strategi (program), taktik-taktik (tata cara pelaksanaan program) dan operasi (tindakan) yang diperlukan untuk mencapai tujuan perusahaan secara menyeluruh.”
 
b.Langkah - langkah dalam menyusun perencanaan manajemen 
  • Menetapkan tugas dan tujuan 
  •  Observasi dan analisa
  • Mengadakan kemungkinan-kemungkinan, seperti kemungkinan besar biaya, lamanya penyelesaian, dan efektivitas-efektivitas lainnya
  •  Menentukan sintesa (alternatif dari kemungkinan-kemungkinan)
c. Manfaat perencanaan dalam suatu organisasi 
  1. Perencanaan strategik dapat memperkuat “critical mass” menjadi tim yang kompak, karena diarahkan untuk menganut nilai-nilai pokok, sistem utama, dan tujuan bersama.Critical mass merupakan kelompok tenaga inti suatu organisasi yang memiliki motivasi, “aptidute” dan pengetahuan mendasar (profound knowledge) untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas organisasi.
  2.  Perencanaan strategik dapat membantu untuk mengoptimisasikan “performance” organisasi. “performance” organisasi meningkat apabila seluruh fungsi atau bagian organisasi bekerjasama secara serasi.
  3.  Perencanaan strategik dapat membantu pimpinan untuk selalu memusatkan perhatian dan menganut kerangka bagi perbaikan secara kontinu.
  4.  Perencanaan strategik memberikan pedoman bagi pengambilan keputusan sehari-hari. 
  5. Perencanaan strategik selalu memberi kemudahan dalam mengukur kemajuan organisasi, yaitu dalam usaha mencapai tujuannya untuk memperbaiki kualitas dan produktivitas.
d. Jenis-jenis perencanaan dalam organisasi
  1. rencana jangka panjang (long term plan) : rencana yang memiliki jangka waktu 5 tahun lebih
  2. rencana jangka pendek (short term plan) : rencana yang memiliki jangka waktu kurang lebih 1 sampai 3 tahun  
Pembagian jenis rencana dapat dilihat dari antara jenis rencana yang dibuat dan jenis keputusan yang dibuat. Pada saat perusahaan berhubungan dengan berbagai aktifitas/masalah yang membutuhkan keputusan rutin (programmed decision), perusahaan dapat membuat rencana yang bisa diterapkan untuk mengatasi berbagai aktivitas atau masalah rutin trsebut. Rencana ini disebut sebagai rencana berkelanjutan (standing plan). Misalnya aturan, kebijakan dan standard operating procedure (SOP). Sebaliknya, perusahaan dapat mengembangkan rencana yang ditujukan untuk mengatasi masalah program yang tidak terprogram (unprogrammed decision) rencana ini disebut sebagai single-use plan.

Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Manajemen
http://aco-xstralen.blogspot.com/2009/05/konsep-20-pengertian-manajemen-menurut.html
http://kepemimpinan-fisipuh.blogspot.com/2009/03/definisi-kepemimpinan.html
http://en.wikipedia.org/wiki/Fiedler_contingency_model
http://rizkiafandi.blogspot.com/2012/04/teori-kepemimpinan-kontingensi-path.html
http://www.kajianpustaka.com/2012/10/pengertian-dan-fungsi perencanaan.html#.UlvFPq4dp68
http://lebak-kauman.blogspot.com/2013/02/perencanaan-dan-rencana-dalam-kegiatan.html

Thursday, June 20, 2013

Pekerjaan, Waktu Luang dan Self Directed

1. Definisikan Nilai Kerja 

Kata 'kerja' dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti kegiatan melakukan sesuatu, sesuatu yang dilakukan bisa bertujuan untuk mencari nafkah.
Pekerjaan dalam arti luas adalah aktivitas utama yang dilakukan oleh seseorang, biasa digunakan untuk menghasilkan sesuatu. Dalam kehidupan sehari-hari biasa kita sebut dengan profesi. Pekerjaan yang dijalani dalam waktu yang cukup lama disebut karier.
Fungsi psikologis dari kerja adalah agar orang-orang lebih efisien dalam memecahkan masalah-masalah yang ada dalam lingkungan pekerjaannya, ini dilakukan dengan memberikan pelatihan(training) pada karyawan.

2. Fase-fase dalam pemilihan kerja

Dalam menentukan pekerjaan tentu saja ada fase-fase yang kita sering jumpai. Seorang David V. Tiedeman mengemukakan mengenai teori pilihan kerja. Dalam teorinya David V.Tiedeman (Sukardi, 1987:89) mengemukakan bahwa keputusan untuk memilih pekerjaan , jabatan atau karier merupakan suatu rentetan akibat dari keputusan-keputusan yang dibuat individu pada tahap-tahap kehidupannya di masa lalu. Pembuaatan keputusan dibagi dua periode olehnya, yaitu periode antisipasi dan implementasi. Kedua periode ini merupakan inti dari suatu perkembangan karir. Perkembangan pekerjaan itu diorientasikan dari keputusan kehidupannya.
a. Periode antisipasi Tiedeman dan O"Hara
(Sharf, 1992:307) membagi antisipasi dalam membuat keputusan kerir menjadi empat proses yaitu eksplorasi, kristalisasi, pemilihan dan klasifikasi. Miller dan Tiedeman (1989) menegaskan bahwa tahapan tersebut sebagai panduan (guideline) dalam mengantisipasi suatu keputusan.
* Eksplorasi
eksplorasi yang dimaksud adalah penjelajahan terhadap kemungkinan alternatif keputusan yang akan kita ambil. Melalui ekplorasi ini lah individu mengetahui dengan jelas konskuensi apa yang akan dialami jika mengambil keputusannya tersebut
* Kristalisasi
Tiedeman dan O"Hara (Sharf, 1992:308) berasumsi bahwa kristalisasi merupakan sebuah stabilisasi dari representasi berpikir. Pada tahap ini, pemikiran dan perasaan mulai menyatu dan teratur. Keyakinan terhadap pilihan akan menguat. Definisi tentang alternatif pilihan pun semakin jelas.
* Pemilihan
Sama halnya dengan perkembangan kristalisasi, proses pemilihan pun terjadi. Masalah-masalah individu berorientasi kepada tujuan yang relevan, yaitu individu mulai mengorganisir dalam melengkapi dan menyesuaikan terhadap pilihan karir dimasa depan.
* Klasifikasi
ketika seorang individu membuat keputusan lalu melakukannya, mungkin dalam perjalanannya ada yang lancar atau mungkin ada yang mempertanyakan seharusnya kepada individu tersebut untuk melakukan eksplorasi kembali, kristalisasi lalu melakukan pemilihan alternatif kembali dan seterusnya.
b. Periode Implementasi dan Penyesuaian
Periode ini digolongkan menjadi 3 tahap, yaitu tahap induksi, tahap transisi, tahap mempertahankan.
* Tahap Induksi
Tahap ini terjadi atau dimulainya dari pengalaman dan kesimpulan yang diteliti. Individu mengorganisir karir dari tujuan individu ke dalam interaksi yang berhubungan dengan masyarakat. Selama tahap ini, individu mengutamakan hal-halyang berkaitan dengan tujuan yang telah dicapainya. Akhirnya pada tahap ini tujuan dari sejumlah alternatif menjadi suatu bagian.
* Tahap Transisi
Pada tahap ini, orientasi yang diutamakan adalah disesuaikan kepada penetapan tujuan karir yang diambilnya. Walaupun telah diperoleh kepercayaan bahwa seseorang akan berhasil terhadap pembuatan keputusan karirnya, akan tetapi seorang individu masih mengalami tahap transisi berbagai keputusan yang telah diambilnya yaitu adanya berbagai kemungkinan bahwa individu  akan menyimpang arah
* Tahap Mempertahankan
individu memelihara keputusan karir yang telah diambilnya. Prospek terhadap segala usahanya telah menuju kepada status dimasa mendatang dan seterusnya akan berkembang menjadi pembinaan karir.


3. Hubungan Kepribadian dengan Pemilihan Pekerjaan yang sesuai
Tipe kepribadian selama ini telah banyak dihubungkan dengan pekerjaan yang sesuai.
Dalam psikologi tipe kepribadian ada 4 tipe kepribadian yaitu , sanguinis , melankolis, plegmatis dan koleris.
Berikut ini adalah diagram DISC yang dapat mempersingkat penjelasan mengenai hubungan tipe kerpibadian dengan pemilihan kerja yang sesuai.
Pada diagram DISC diatas dijelaskan bahwa setiap orang akan memiliki 1 atau 2 kepribadian yang dominan pada dirinya (ini bisa dilihat dari jumlah rating jawaban tertinggi dari hasil test kepribadian).

  • Orang yang memiliki perpaduan Koleris dan Sanguin (atau sebaliknya),  biasanya memiliki kemampuan untuk memimpin karena semangat dan kepercayaan dirinya.
  • Orang yang memiliki perpaduan Sanguin dan Plegmatis (atau sebaliknya), biasanya memiliki kemampuan dalam membina relasi dan persahabatan.
  • Orang yang memiliki perpaduan Plegmatis dan Melankolis (atau sebaliknya), biasanya punya kemampuan untuk menganalisa karena ketelitian dan kecermatannya.
  • Orang yang memiliki perpaduan Melankolis dan Koleris (atau sebaliknya), biasanya punya semangat kerja dan produktivitas yang sangat tinggi.

Masing-masing kepribadian memiliki kecocokan dalam bidang pekerjaan tertentu :
  • Seorang Sanguinis cocok dalam bidang pekerjaan : presenter, penyiar, sales, pengacara, tour leader dan selebriti.
  • Seorang Koleris cocok dalam bidang pekerjaan : direktur, owner perusahaan, bos dan dokter.
  • Seorang Melankolis cocok dalam bidang pekerjaan : keuangan, komputer, R&D/QC, Hakim dan Notaris.
  • Seorang Plegmatis cocok dalam bidang pekerjaan : staf administrasi, konselor dan customer sevice. 
4. Cara Mengisi Waktu Luang dengan cara Positif
Kegiatan positif yang dapat dilakukan dalam waktu luang , bisa berupa olahraga, pergi ke tempat rekreasi hiburan bersama keluarga atau istirahat sepanjang hari dirumah dengan hiburan di televisi.

5. Self Directed
Dalam perkembangannya sebuah kontrol terhadap diri telah dibahas oleh beberapa ahli yang menganggap bahwa pada usia remaja kontrol diri sebenarnya sudah mencapai akhir perkembangannya, penelitian membuktikan bahwa kontrol diri yang rendah pada masa remaja berhubungan dengan kontrol diri yang rendah pula pada masa dewasa. Namun ahli lain mengatakan bahwa kontrol-diri dapat berkembang sepanjang kehidupan. Seperti yang dilaporkan oleh Fujita dkk,kontrol-diri dapat ditingkatkan melalui beberapa cara berfikir yang saling berhubungan :
1. Global Processing, mencoba fokus pada gambaran besar dari tujuan hidup atau cita-cita kita, sehingga setiap kegiatan atau tindakan kita dilihat sebagai bagian dari pencapaian tujuan akhir.
2. Abstract listening, mencoba menolak detil-detil dalam situasi khusus untuk membawa kita berfikir bagaimana tindakan kita sesuai dengan rencana kerja kita secara keseluruhan. Contohnya : seseorang mungkin harus mengurangi berfikir tentang detail-detail beratnya latihan fisik tetapi mencoba untuk fokus pada gambaran fisik yang ideal yang akan dicapai bila dia tetap menjalankan latihan dengan baik.
3.High-level categorization, berfikir tentang konsep tingkat tinggi daripada keadaan yang khusus atau sesaat. Kategorisasi tugas dapat membantu kita untuk mengatur fokus dan mencapai disiplin-diri yang lebih besar.
Beberapa hal diatas dapat diterapkan pada banyak situasi dimana pada saat itu dibutuhkan kontrol-diri.
Pendek kata ketiga cara berfikir diatas adalah cara yang berbeda untuk mengatakan hal yang sama yaitu : berfikir global, obyektif dan abstak , sehingga peningkatan kontrol-diri akan mengikuti kemudian.

Menetapkan Tujuan
Agar kita bisa menetapkan tujuan dengan baik, berikut ini mungkin beberapa langkah yang bisa membantu:
1.Pastikan bahwa itu yang benar-benar kamu inginkan. Saat menentukan Tujuan, pastikan bahwa itu sesuai dengan nilai-nilai hidup kamu. Yakinkan bahwa itu benar-benar berasal dari dalam diri kamu, bukan orang lain.
2.Gunakan statement positif. Ekspresikan tujuan kamu secara positif. Contohnya : “saya lulus kuliah tepat waktu (4 tahun)” daripada menggunakan “jangan sampai lulus lebih dari 4 tahun”
3.Gunakan kalimat bahwa kamu seakan-akan sudah mencapainya. Contohnya : “Awal tahun 2015 saya sudah mempunyai 10 cabang Franchise di seluruh Indonesia”
4.Buat prioritas. Saat kamu menetapkan beberapa tujuan, beri skala prioritas. Hal ini akan membantu kamu menentukan tujuan mana yang harus dicapai lebih dahulu. Untuk lebih detail nanti akan kita bahas dalam posting yang lebih mendalam
5.Tulis tujuan kamu. Salah satu rahasia orang-orang sukses adalah menulis setiap tujuan mereka. Saat kita mulai menuliskannya maka secara tidak langsung hal ini akan membantu kita mewujudkannya. Menuliskan sesuatu akan membantu mengklarifikasi pemikiran dan mengkristalkan gagasan kamu
6.“lihatlah dari yang paling mungkin, mulailah dari yang paling mudah dan LAKUKAN SEKARANG”. Yah, inilah saah satu kata ajaib yang saya temukan saat mendirikan Senyum Community. Saat saya memulainya, saya mempunyai tujuan besar, namun ternyata saya sadar untuk mendapatkan suatu yang besar kita harus memulai mendapatkan yang lebih kecil dahulu. Think Big, Start small!
7.Tentukan tujuan berdasarkan proses, bukan hasil akhir. Berhati-hatilah dalam menentukan tujuan. Ingat tidak semua yang kit inginkan dapat tercapai. Kegagalan adalah hal yang lumrah. Saat kita hanya mengingkan hasil akhir maka kita akan kurang menghargai dari proses yang telah kita lakukan. hal inilah yang terkadang membuat sebagian orang stress maupun depresi. Hargai setiap capaian yang telah kamu lakukan, karena saat kamu sudah memulai untuk menetapkan tujuan sebenarnya kamu sudah merupakan bagian dari tujuan kamu tersebut.
8.Gunakan rumus SMART. Tentukan tujuan dengan Spesific (spesifik), Measurable (dapat diukur), Attainable (dapat dicapai), Relevant (relevan), time bound (dibatasi waktu). Contohnya : “saya sudah keliling 5 benua pada Desember 2020”. Lebih detil lagi lebih bagus, Jangan sampai Cuma : “Saya ingin keliling dunia”

SUMBER :
Sukardi, Dewa Ketut.1987.Bimbingan Karir di Sekolah-Sekolah.Jakarta:Ghalia Indonesia
https://id.wikipedia.org/wiki/Pekerjaan
http://arie5758.blogspot.com/2011/10/pengaruh-kepribadian-terhadap-bidang.html
http://dw-arif-n.blogspot.com/2010/05/cara-jitu-menentukan-tujuan.html
http://niatnyagamaunulismalahcerita.blogspot.com/2010/05/meningkatkan-kontrol-diri.html

Sunday, June 2, 2013

Cinta dan Perkawinan

Cinta
Cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut.
Cinta dalam psikologi sosial mengutip pernyataan seorang ahli yaitu Stenberg , beliau yang mengenalkan Teori Segitiga Sternberg, yang terdiri dari tiga aspek: keintiman(intimacy), gairah(passion), dan komitmen(commitment).
Cinta yang sempurna adalah cinta yang memenuhi dari ketiga aspek tersebut. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing aspek.
Gairah (passion) cenderung terjadi pada awal hubungan, relatif cepat dan kemudian beralih pada tingkat yang stabil sebagai hasil pembiasaan.
Keintiman (intimacy) relatif lebih lambat dan kemudian secara bertahap bermanifestasi sebagai meningkatkan ikatan interpersonal. Perubahan keadaan dapat mengaktifkan keintiman, yang dapat menyebabkan intimacy menurun atau justru semakin naik.
Komitmen (commitment) meningkat relatif lambat pada awalnya, kemudian berjalan cepat, dan secara bertahap akan menetap. Ketika hubungan gagal, tingkat komitmen biasanya menurun secara bertahap dan hilang.
Perkawinan adalah ikatan sosial atau ikatan perjanjian hukum antar pribadi yang membentuk hubungan kekerabatan dan yang merupakan suatu pranata dalam budaya setempat yang meresmikan hubungan antar pribadi - yang biasanya intim dan seksual. Perkawinan umumnya dimulai dan diresmikan dengan upacara pernikahan. Umumnya perkawinan dijalani dengan maksud untuk membentuk keluarga.

Setiap kita yang sedang berada dalam hubungan pacaran (penjajakan dua pribadi sebelum melangkah ke tahap pernikahan) pasti menginginkan mendapat pasangan yang nantinya akan setia sebagai partner hidup kita.
berbagai tips banyak dikemukakan baik dari orang tua, para tokoh agama maupun ahli-ahli dalam berbagai bidang studi mengenai memilih pasangan, berikut kita akan membahasnya..
1. Rajin beribadah
Setiap kita pasti menginginkan satu orang untuk selamanya dalam mendampingi hidup kita. Kesetiaan seseorang tidak dapat kita pastikan sampai seberapa lama ia akan mampu bertahan, tapi disisi lain kita cuma manusia biasa yang tidak bisa memaksakan kehendak kita apabila partner kita sudah tidak sesuai atau mengkhianati hubungan . Oleh karna itu, nilailah mereka sebelum melangkah lebih jauh, alangkah baiknya jika ia lebih mencintai Tuhan dibandingkan kita, karna orang yang takut akan Tuhan akan menjalankan apa yang dikehendaki Tuhan-nya.
As a Christian, umat diperintahkan untuk menikah sekali saja, karna Allah sangat membenci perceraian. So, be careful :)

2. Sehat secara Jasmani
Pernah dengar nasihat kuno, kalau pilih jodoh, liat bibit, bebet dan bobotnya.
Orang tua jaman dulu sangat tepat mengemukakan hal ini.
Kalau membahas tentang kesehatan, semua orang ingin sehat dan juga pastinya ingin memiliki keturunan yang sehat tanpa adanya penyakit turunan dsb.
Penting untuk kita datang ke tempat cek kesehatan terdekat, dan memeriksakan kesehatan bersama pasangan yang ingin kita jadikan pasangan hidup kita.
Saling mengetahui riwayat penyakit, kesehatan fisik dan mental masing-masing adalah langkah awal untuk mencegah dan mengantisipasi penyakit tertular pada generasi kita berikutnya.

3. Sifat Materalisme
Para lelaki sering mengungkapkan banyak perempuan matre hari-hari ini. Sebenarnya ini merupakan hal yang wajar jika dalam konteks positif, mengapa? karena semakin hari semakin banyak jumlah manusia, dan akibatnya persaingan didunia kerja semakin kompetitif, dan apabila wanita tersebut merasa pasangannya tidak akan mampu membiayainya kelak bersama anak, maka hidup akan terasa berat dan jumlah kematian maupun populasi orang yang terganggu mental bertambah.
Maka dari itu perempuan umumnya harus lebih selektif dalam memilih pasangan pria yang akan hidup bersamanya kelak.
Jadi matre disini bukan hal-hal negatif yang menghamburkan uang pasangan untuk berfoya-foya dan membeli hal-hal yang tidak penting.
Bagi para pria yang suka berkata pada perempuan bahwa perempuan itu matre, berkacalah, kalian yang tidak mampu memenuhi standar. :)

Dawn J. Lipthrott, LCSW, seorang psikoterapis dan marriage and relationship educator and coach, mengemukakan lima tahap perkembangan dalam kehidupan perkawinan. 
  1. Tahap pertama : Romantic Love. ini terjadi pada saat Anda dan pasangan merasakan gelora cinta yang menggebu-gebu. Ini terjadi di saat bulan madu pernikahan. Anda dan pasangan pada tahap ini selalu melakukan kegiatan bersama-sama dalam situasi romantis dan penuh cinta. 
  2. Tahap kedua : Dissapointment or Distress. ditahap ini pasangan suami istri kerap saling menyalahkan, memiliki rasa marah dan kecewa pada pasangan, berusaha menang atau lebih benar dari pasangannya. Terkadang salah satu dari pasangan yang mengalami hal ini berusaha untuk mengalihkan perasaan stres yang memuncak dengan menjalin hubungan dengan orang lain, mencurahkan perhatian ke pekerjaan, anak atau hal lain sepanjang sesuai dengan minat dan kebutuhan masing-masing. Menurut Dawn tahapan ini bisa membawa pasangan suami-istri ke situasi yang tak tertahankan lagi terhadap hubungan dengan pasangannya.  Banyak pasangan di tahap ini memilih berpisah dengan pasangannya. 
  3. Tahap ketiga Knowledge and Awareness. pasangan suami istri yang sampai pada tahap ini akan lebih memahami bagaimana posisi dan diri pasangannya. Pasangan ini juga sibuk  menggali informasi tentang bagaimana kebahagiaan pernikahan itu terjadi. Pasangan yang sampai di tahap ini biasanya senang untuk meminta kiat-kiat kebahagiaan rumah tangga kepada pasangan lain yang lebih tua atau mengikuti seminar-seminar dan konsultasi perkawinan. 
  4. Tahap keempat Transformation. Suami istri di tahap ini akan mencoba tingkah laku  yang berkenan di hati pasangannya. Anda akan membuktikan untuk menjadi pasangan yang tepat bagi pasangan Anda. Dalam tahap ini sudah berkembang sebuah pemahaman yang menyeluruh antara Anda dan pasangan dalam mensikapi perbedaan yang terjadi. Saat itu, Anda dan pasangan akan saling menunjukkan penghargaan, empati dan ketulusan untuk mengembangkan kehidupan perkawinan yang nyaman dan tentram. 
  5. Tahap kelima :  Real Love. “Anda berdua akan kembali dipenuhi dengan keceriaan, kemesraan, keintiman, kebahagiaan, dan kebersamaan dengan pasangan,” ujar Dawn.  Psikoterapis ini menjelaskan pula bahwa waktu yang dimiliki oleh pasangan suami istri seolah digunakan untuk saling memberikan perhatian satu sama lain. Suami dan istri semakin menghayati cinta kasih pasangannya sebagai realitas yang menetap. “Real love sangatlah mungkin untuk Anda dan pasangan jika Anda berdua memiliki keinginan untuk mewujudkannya. Real love tidak bisa terjadi dengan sendirinya tanpa adanya usaha Anda berdua,” ingat Dawn.

    Alternatif selain pernikahan
    Jaman sekarang banyak pria maupun wanita yang sudah berumur tapi belum berstatus menikah. Alasan beragam pun dikemukakan, ada yang karena terlalu sibuk dalam bidang akademis, terlalu sibuk mengejar karir, atau belum merasa mapan untuk menikahi seorang wanita, trauma terhadap maraknya berita perceraian bahkan karena terlalu banyak menuntut kesempurnaan dari calon pasangan kelak.
    Seiring dengan perkembangan jaman, gaya hidup masyarakat modern pun kini kian berubah. Tuntutan perusahaan sekarang pun banyak yang menginginkan dan membutuhkan karyawan dengan status single terutama di fokuskan pada karyawati, alasan atasan perusahaan yang sering kita dengar adalah supaya tidak terganggu kinerja produktif dari karyawati tersebut. Dan hal seperti ini juga yang merupakan hasil dari emansipasi wanita, kini wanita pun dapat sejajar dengan pria, ini dapat dijumpai pada pemerintahan negara kita contohnya.

    Sumber :
    http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/keluarga/psikologi/lima.tahap.dalam.perkawinan/001/007/140/1/1
    http://id.wikipedia.org/wiki/Perkawinan
    http://id.wikipedia.org/wiki/Pacaran
    http://www.psikologizone.com/cinta-menurut-psikologi/065113807

Hubungan Interpersonal

  1. Menjelaskan model pertukaran sosial dan analisis interpersonal
    Model pertukaran sosial (social exchange model) memandang hubungan interpesonal sebagai suatu transaksi dagang. Orang berhubungan satu dengan yang lain karena mengharapkan sesuatu yang akan dapat memenuhi kebutuhannya. Thibault dan Kelley, dua orang pemuka utama dari model ini, menyimpulkan model pertukaran sosial sebagai berikut :
    "Asumsi dasar yang mendasari seluruh analisis adalah bahwa setiap individu secara sukarela memasuki dan tinggal dalam hubungan sosial hanya selama hubungan tersebut cukup memuaskan ditinjau dari segi ganjaran dan biaya."
    Ganjaran, biaya, laba, dan tingkat pebandingan merupakan empat konsep pokok dalam teori ini. Ganjaran dalam hal ini bersifat positif, seperti halnya uang dalam bentuk gaji, penerimaan sosial atau dukungan terhadap diri individu.
    Analisis transaksional merupakan teori kepribadian dan interaksi sosial yang dikembangkan oleh Eric Berne pada tahun 1961 dalam buku Transactional Analysis in Psychotherapy. Berne mengemukakan istilah ini bukan dengan istilah psikologi, satuan dasar dari perilaku tersebut ialah transaksi. Transaksi terjadi ketika seseorang memberitahu orang lain tentang informasi lewat kata-kata dan tindakan dan orang lain tersebut merespon.
    dengan kata lain, transaksi itu berisi stimulus , suatu bentuk penyampaian dan kemudian orang tersebut merespon.
    Tujuan dari analisis transaksional ini adalah otonomi yang diartikan sebagai kepedulian, spontanitas dan kemampuan untuk akrab/kedekatan. Analisis transaksional dapat terjadi pada komunikasi verbal maupun nonverbal, tekananan analisis transaksional menekankan pada komunikasi positif.
  2. Pembentukan kesan dan ketertarikan interpersonal dalam memulai hubungan
    Ellen Berscheid (Berscheid, 1985; Berscheid & Peplau 1983; Berscheid & Reis, 1998) memberikan analisisnya mengenai apa yang membuat orang-orang dari berbagai usia merasa bahagia, dari daftar jawaban yang ada, yang tertinggi atau mendekati tertinggi adalah membangun dan mengelola persahabatan dan memiliki hubungan yang positif serta hangat dengan orang lain disekitarnya. Tidak adanyanya hubungan yang bermakna dengan orang-orang lain akan membuat individu merasa kesepian, kurang berharga, putus asa, tak berdaya, dan keterasingan.
    Seorang ahli Psikologi Sosial, Arthur Aron juga menyatakan bahwa motivasi utama manusia adalah ’ekspresi diri’ (self expression). Penyebab ketertarikan ini awalnya dimulai dari rasa suka hingga rasa cinta yang berkembang menuju hubungan yang lebih erat, hal ini meliputi :
    • aspek kedekatan: proximity dan propinquity effect (semakin sering kita melihat dan berinteraksi dengan seseorang, maka semakin besar kemungkinan kita akan bersahabat dengan orang tersebut) 
    • adanya kesamaan : semakin kita mengenal seseorang tentu saja kita akan banyak mengetahui tentang orang tersebut. peneliti membagi hal ini dalam dua situasi sosial, closed field situation(situasi yang mendorong seseorang untuk melakukan interkasi, contoh dalam perkantoran) dan open field situation (keadaan dimana seseorang bebas menentukan ingin berinteraksi atau tidak).
      dalam hubungan percintaan, biasanya akan ditemukan banyak bentuk kesamaan seperti dalam hal kesamaan opini , dan kepribadian, minat maupun pengalaman.
    • kesukaan timbal balik
      Kita semua merasa senang disukai. Hal ini cukup kuat menimbulkan ketertarikan, tanpa harus ada kesamaan. Kesukaan timbal-balik kadang terjadi karena self-fulfilling prophecy. Hal ini ditunjukkan dalam eksperimen yang dilakukan oleh Curtis dan Miller (1986) dengan subjek mahasiswa.
    •  ketertarikan akan fisik dan rasa suka.
      Daya tarik fisik merupakan hal yang menentukan kesan pertama baik pada laki-laki maupun perempuan. Namun berbagai penelitian menunjukkan bahwa dibanding perempuan, laki-laki menilai daya tarik fisik lebih penting. Hasil penelitian meta-analisis (penelitian yang menganalisis lebih lanjut berbagai hasil penelitian yang topiknya sama) yang dilakukan oleh Feingold, 1990) menunjukkan bahwa bila yang diukur sikapnya, dibanding pada perempuan pada umumnya laki-laki menilai penampilan fisik leih penting; bagaimanapun juga bila yang diukur adalah perilaku aktual, antara laki-laki dan perempuan memberikan respon yang sama terhadap daya tarik fisik pihak lain.
  3.  Model peran , konflik, adequancy peran , autensitas dalam hubungan peran
    Role Model atau model peran adalah Hubungan interpersonal diartikan sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang memainkan peranannya sesuai naskah yang dibuat masyarakat. Hubungan akan dianggap baik bila individu bertindak sesuai ekspetasi peranan (role expectation), tuntutan peranan (role demands), memiliki ketrampilan (role skills) dan terhindar dari konflik peranan. Ekspetasi peranan mengacu pada kewajiban, tugas dan yang berkaitan dengan posisi tertentu, sedang tuntutan peranan adalah desakan sosial akan peran yang harus dijalankan. Sementara itu ketrampilan peranan adalah kemampuan memainkan peranan tertentu.
    Konflik
    Konflik dalam pembahasan hubungan interpersonal adalah pertentangan antar seseorang dengan orang lain karena adanya perbedaan kepentingan atau keinginan. Hal ini biasanya terjadi pada dua orang yang mempunyai perbedaan status, jabatan, bidang kerja dan lain-lain. Konflik interpersonal ini merupakan suatu dinamika yang sangat penting dalam perilaku organisasi.
    Adequancy peran serta autentisitas dalam hubungan peran
    Kecukupan perilaku yang diharapkan pada seseorang sesuai dengan posisi sosial yang diberikan baik secara formal maupun secara informal. Peran didasarkan pada ketentuan dan harapan peran yang menjelaskan apa yang individu harus lakukan dalam suatu situasi tertentu agar dapat memenuhi harapan-harapan mereka sendiri atau harapan orang lain menyangkut peran-peran tersebut.
  4. Intimasi dan hubungan pribadi
    Pendapat beberapa ahli mengenai intimasi, di antara lain yaitu :
    a) 
    Shadily dan Echols (1990) : intimasi sebagai kelekatan yang kuat yang didasarkan oleh saling percaya dan kekeluargaan.
    b)
    Sullivan (Prager, 1995) : intimasi sebagai bentuk tingkah laku penyesuaian seseorang untuk mengekspresikan akan kebutuhannya terhadap orang lain.
    c) 
    Steinberg (1993) : berpendapat bahwa suatu hubungan intim adalah sebuah ikatan emosional antara dua individu yang didasari oleh kesejahteraan satu sama lain, keinginan untuk memperlihatkan pribadi masing-masing yang terkadang lebih bersifat sensitif serta saling berbagi kegemaran dan aktivitas yang sama.
    d)
    Levinger & Snoek (Brernstein dkk, 1988) : intimasi merupakan suatu bentuk hubungan yang berkembang dari suatu hubungan yang bersifat timbal balik antara dua individu. Keduanya saling berbagi pengalaman dan informasi, bukan saja pada hal-hal yang berkaitan dengan fakta-fakta umum yang terjadi di sekeliling mereka, tetapi lebih bersifat pribadi seperti berbagi pengalaman hidup, keyakinan-keyakinan, pilihan-pilihan, tujuan dan filosofi dalam hidup. Pada tahap ini akan terbentuk perasaan atau keinginan untuk menyayangi, memperdulikan, dan merasa bertangung jawab terhadap hal-hal tertentu yang terjadi pada orang yang dekat dengannya.
    e)  
    Atwater (1983) : intimasi mengarah pada suatu hubungan yang bersifat informal, hubungan kehangatan antara dua orang yang diakibatkan oleh persatuan yang lama. Intimasi mengarah pada keterbukaan pribadi dengan orang lain, saling berbagi pikiran dan perasaan mereka yang terdalam. Intimasi semacam ini membutuhkan komunikasi yang penuh makna untuk mengetahui dengan pasti apa yang dibagi bersama dan memperkuat ikatan yang telah terjalin. Hal tersebut dapat terwujud melalui saling berbagi dan membuka diri, saling menerima dan menghormati, serta kemampuan untuk merespon kebutuhan orang lain (Harvey dan Omarzu dalam Papalia dkk, 2001).
    Bentuk-bentuk intimasi dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari seperti hubungan persaudaraan, persahabatan hingga percintaan. Berikut penjelasan mengenai bentuk-bentuk hubungan intim tersebut:
    1.    Persaudaraan
    Hubungan inti ini didasarkan pada hubungan darah. Hubungan intim interpersonal dalam persaudaraan terdapat hubungan inti seperti dalam keluarga kecil. Pada persaudaraan itu di dalamnya terkandung proximity dan keakraban.
    2.    Persahabatan
    Persahabatan biasanya dialami oleh dua individu yang didasarkan pada banyak persamaan. Utamanya persamaan usia. Hubungan dalam persahabatan tidak hanya sekedar teman, lebih dari itu diantara mereka terjalin interaksi yang sangat tinggi sehingga mempunyai kedekatan psikologis. Indikasi atau tanda-tanda bila dalam hubungan interpersonal terjadi persahabatan yaitu : sering bertemu, merasa bebas membuka diri, bebasmenyatakan emosi, dan saling tergantung diantara mereka.
    3.    Percintaan
    Persahabatan antara pria dan wanita bisa berubah mejadi cinta, ketika dua individu itu merasa sebagai pasangan yang potensial seksual. Dalam suatu persahabatan, dapat melahirkan satu proses yang namanya jatuh cinta. Hal ini terjadi karena ada dua perbedaan mendasar antara persahabatan dan cinta.

  5. Intimasi dan pertumbuhan
    Menurut Crooks & baur, (1983) ada beberapa tahapan perkembangan terjadinya intimasi, yaitu sebagai berikut :
    • Penerimaan diri
      Erikson dalam Crooks & Baur, (1983) percaya bahwa penerimaan diri yang positif adalah suatu persyaratan untuk suatu hubungan yang memuaskan. Dengan perasaan positif, individu yang dapat menerima diri dapat menjadi fondasi untuk menjalin intimasi di dalam hubungan.
    • Saling berinteraksi
      bila ada interaksi yang berjalan antara dua individu maka hal tersebut dapat menjadi dasar yang baik dalam suatu hubungan yang positif.
    • Memberi tanggapan
      Berbagai jenis respon atau tanggapan tertentu misalanya dengan individu saling mendengarkan, mengerti dan memahami maka keharmonisan dan kelestarian hubugan akan tetap terpelihara.
    • Perhatian
      Perhatian yang dicurahkan oleh individu dapat memotivasi pasangan dan menjaga kesejahteraan hubungan.
    • Rasa saling percaya bahwa pasangan akan berlaku secara konsiten, berusaha membina pertumbuhan dan mempertahankan stabilitas hubungan, maka keutuhan hubungan akan selalu terjaga.
    • Kasih sayang pengintepretasian kasih sayang kepada pasangan dapat meningkatkan jalinan intimasi antara satu sama lain.
    • Kemampuan untuk bergembira bersama pasangan
      Individu dapat mengutarakan kegembiraan dan kesenangan dengan cara menghabiskan waktu senggang bersama-sama.
    • Berhubungan seksual
      terkadang sepasang kekasih melakukan hal ini untuk mengekspresikan perasannya, namun jika melakukannya tanpa melalui tahapan-tahapan sebelumnya maka akan terjadi kedekatan emosional diantara keduanya.
      SUMBER :
      http://kk.mercubuana.ac.id/files/42013-2-853357679711.doc
      http://shafashan15.blogspot.com/2012/04/hubungan-interpersonal.html
      http://www.sarjanaku.com/2013/01/pengertian-peran-definisi-menurut-para.html
      http://nilam.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/30402/BAB+10.+DAYA+TARIK+INTERPERSONAL.pdf

Thursday, May 2, 2013

Fenomena yang Berkaitan dengan Psikologi

Banyak fenomena yang terjadi baru-baru ini dalam masyarakat yang erat kaitannya dengan teori psikologi. Dalam penulisan ini saya akan mengambil contoh dalam bidang psikologi pendidikan.
Kasus yang sedang marak tahun ini sepertinya mengenai Ujian Nasional.
Ujian Nasional yang diadakan pemerintah tahun 2013 ini, merupakan catatan sejarah terburuk yang pernah ada dalam bidang pendidikan. Mengapa ?
Karena pada awalnya niat awal pemerintah dengan mencoba melaksanakan ujian menggunakan 20 paket soal yang berbeda ini , memang dirasakan sangat sulit bagi para peserta. Kecemasan bertambah ketika banyak soal yang tersebar tidak merata di seluruh provinsi. Dan media pun menyelidiki kasus-kasus ini , setelah beberapa hal yang diselidiki, banyak kejanggalan yang dirasakan dan ini banyak diasumsikan masyarakat sebagai tindakan yang berkaitan dengan perilaku korupsi pada oknum-oknum yang terlibat.
Pelaksanaan ujian akhir di berbagai tingkatan pendidikan setiap akhir tahun ajaran, seringkali memunculkan pro-kontra kegunaannya. Perdebatan dan kritik makin gencar. Arsip surat kabar Sinar Harapan mencatat pendapat Fuad Hassan, Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan mantan Mendiknas, bahwa penilaian hasil belajar tidak hanya dilakukan dengan mengevaluasi hasil belajar, tetapi juga mencakup proses belajar mengajar yang dilakukan. Pelaksanaan UN hendaknya sebatas untuk mengetahui peta kualitas pendidikan di Indonesia. Melalui UN dapat diketahui sejauh mana kurikulum secara nasional tercapai, namun bukan menjadi penentu kelulusan siswa. Peningkatan kualitas pendidikan pun perlu disertai dengan peningkatan kualitas guru ketika mengajar. Kualitas pembelajaran seharusnya juga tidak dibebankan ke siswa dengan target nilai.
Para siswa di sekolah yang berfasilitas minim, bahkan jauh dari prasyarat pendidikan standar akan kesulitan menyesuaikan diri dengan standar nasional. 
Akibatnya juga berdampak negatif dimana guru memberitahukan kunci jawaban kepada siswa sehingga kelulusan siswa meningkat. Hal ini secara tidak langsung akan membentuk karakter negatif pada siswa.
Pakar Psikologi Pendidikan dapat berperan dalam membantu sekolah mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan perkembangan psikologi siswa sekaligus memberikan bimbingan bagi siswa yang menghadapi kendala dalam proses belajarnya, seperti menangani kecemasan siswa dalam menghadapi ujian.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada beberapa SMA di Indonesia yang memiliki program akselerasi, Guru Besar Psikologi UGM Asmadi Alsa menyimpulkan beberapa hal, diantaranya bahwa siswa akselerasi memang memperoleh percepatan dalam hal perkembangan secara kognitif, namun tidak dalam hal afektif dan psikomotoris (Pidato
Pengukuhan Prof. Asmadi Alsa dari www.ugm.ac.id). Namun begitu, aktivitas belajar yang padat dapat memacu siswa sehingga memiliki daya juang yang tinggi dalam belajar, karena memang tidak ditemukan adanya dampak negatif dari hal itu. Meski demikian, pemantauan pada semester awal menjadi amat penting dalam rangka melakukan tindakan lanjutan bagi
siswa yang ditemukan memiliki potensi tidak cukup mampu melakukan penyesuaian diri dengan tuntutan program maupun juga lingkungan akademik dan sosial yang baru (www.ugm.ac.id). Bagaimanapun, evaluasi terhadap program akselerasi di Indonesia harus terus dilakukan dari berbagai aspek. Keberhasilan akselerasi di negara lain tidaklah dapat menjadi pegangan, mengingat kondisi demografis dan sosio-kultural yang berbeda.