Thursday, June 20, 2013

Pekerjaan, Waktu Luang dan Self Directed

1. Definisikan Nilai Kerja 

Kata 'kerja' dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti kegiatan melakukan sesuatu, sesuatu yang dilakukan bisa bertujuan untuk mencari nafkah.
Pekerjaan dalam arti luas adalah aktivitas utama yang dilakukan oleh seseorang, biasa digunakan untuk menghasilkan sesuatu. Dalam kehidupan sehari-hari biasa kita sebut dengan profesi. Pekerjaan yang dijalani dalam waktu yang cukup lama disebut karier.
Fungsi psikologis dari kerja adalah agar orang-orang lebih efisien dalam memecahkan masalah-masalah yang ada dalam lingkungan pekerjaannya, ini dilakukan dengan memberikan pelatihan(training) pada karyawan.

2. Fase-fase dalam pemilihan kerja

Dalam menentukan pekerjaan tentu saja ada fase-fase yang kita sering jumpai. Seorang David V. Tiedeman mengemukakan mengenai teori pilihan kerja. Dalam teorinya David V.Tiedeman (Sukardi, 1987:89) mengemukakan bahwa keputusan untuk memilih pekerjaan , jabatan atau karier merupakan suatu rentetan akibat dari keputusan-keputusan yang dibuat individu pada tahap-tahap kehidupannya di masa lalu. Pembuaatan keputusan dibagi dua periode olehnya, yaitu periode antisipasi dan implementasi. Kedua periode ini merupakan inti dari suatu perkembangan karir. Perkembangan pekerjaan itu diorientasikan dari keputusan kehidupannya.
a. Periode antisipasi Tiedeman dan O"Hara
(Sharf, 1992:307) membagi antisipasi dalam membuat keputusan kerir menjadi empat proses yaitu eksplorasi, kristalisasi, pemilihan dan klasifikasi. Miller dan Tiedeman (1989) menegaskan bahwa tahapan tersebut sebagai panduan (guideline) dalam mengantisipasi suatu keputusan.
* Eksplorasi
eksplorasi yang dimaksud adalah penjelajahan terhadap kemungkinan alternatif keputusan yang akan kita ambil. Melalui ekplorasi ini lah individu mengetahui dengan jelas konskuensi apa yang akan dialami jika mengambil keputusannya tersebut
* Kristalisasi
Tiedeman dan O"Hara (Sharf, 1992:308) berasumsi bahwa kristalisasi merupakan sebuah stabilisasi dari representasi berpikir. Pada tahap ini, pemikiran dan perasaan mulai menyatu dan teratur. Keyakinan terhadap pilihan akan menguat. Definisi tentang alternatif pilihan pun semakin jelas.
* Pemilihan
Sama halnya dengan perkembangan kristalisasi, proses pemilihan pun terjadi. Masalah-masalah individu berorientasi kepada tujuan yang relevan, yaitu individu mulai mengorganisir dalam melengkapi dan menyesuaikan terhadap pilihan karir dimasa depan.
* Klasifikasi
ketika seorang individu membuat keputusan lalu melakukannya, mungkin dalam perjalanannya ada yang lancar atau mungkin ada yang mempertanyakan seharusnya kepada individu tersebut untuk melakukan eksplorasi kembali, kristalisasi lalu melakukan pemilihan alternatif kembali dan seterusnya.
b. Periode Implementasi dan Penyesuaian
Periode ini digolongkan menjadi 3 tahap, yaitu tahap induksi, tahap transisi, tahap mempertahankan.
* Tahap Induksi
Tahap ini terjadi atau dimulainya dari pengalaman dan kesimpulan yang diteliti. Individu mengorganisir karir dari tujuan individu ke dalam interaksi yang berhubungan dengan masyarakat. Selama tahap ini, individu mengutamakan hal-halyang berkaitan dengan tujuan yang telah dicapainya. Akhirnya pada tahap ini tujuan dari sejumlah alternatif menjadi suatu bagian.
* Tahap Transisi
Pada tahap ini, orientasi yang diutamakan adalah disesuaikan kepada penetapan tujuan karir yang diambilnya. Walaupun telah diperoleh kepercayaan bahwa seseorang akan berhasil terhadap pembuatan keputusan karirnya, akan tetapi seorang individu masih mengalami tahap transisi berbagai keputusan yang telah diambilnya yaitu adanya berbagai kemungkinan bahwa individu  akan menyimpang arah
* Tahap Mempertahankan
individu memelihara keputusan karir yang telah diambilnya. Prospek terhadap segala usahanya telah menuju kepada status dimasa mendatang dan seterusnya akan berkembang menjadi pembinaan karir.


3. Hubungan Kepribadian dengan Pemilihan Pekerjaan yang sesuai
Tipe kepribadian selama ini telah banyak dihubungkan dengan pekerjaan yang sesuai.
Dalam psikologi tipe kepribadian ada 4 tipe kepribadian yaitu , sanguinis , melankolis, plegmatis dan koleris.
Berikut ini adalah diagram DISC yang dapat mempersingkat penjelasan mengenai hubungan tipe kerpibadian dengan pemilihan kerja yang sesuai.
Pada diagram DISC diatas dijelaskan bahwa setiap orang akan memiliki 1 atau 2 kepribadian yang dominan pada dirinya (ini bisa dilihat dari jumlah rating jawaban tertinggi dari hasil test kepribadian).

  • Orang yang memiliki perpaduan Koleris dan Sanguin (atau sebaliknya),  biasanya memiliki kemampuan untuk memimpin karena semangat dan kepercayaan dirinya.
  • Orang yang memiliki perpaduan Sanguin dan Plegmatis (atau sebaliknya), biasanya memiliki kemampuan dalam membina relasi dan persahabatan.
  • Orang yang memiliki perpaduan Plegmatis dan Melankolis (atau sebaliknya), biasanya punya kemampuan untuk menganalisa karena ketelitian dan kecermatannya.
  • Orang yang memiliki perpaduan Melankolis dan Koleris (atau sebaliknya), biasanya punya semangat kerja dan produktivitas yang sangat tinggi.

Masing-masing kepribadian memiliki kecocokan dalam bidang pekerjaan tertentu :
  • Seorang Sanguinis cocok dalam bidang pekerjaan : presenter, penyiar, sales, pengacara, tour leader dan selebriti.
  • Seorang Koleris cocok dalam bidang pekerjaan : direktur, owner perusahaan, bos dan dokter.
  • Seorang Melankolis cocok dalam bidang pekerjaan : keuangan, komputer, R&D/QC, Hakim dan Notaris.
  • Seorang Plegmatis cocok dalam bidang pekerjaan : staf administrasi, konselor dan customer sevice. 
4. Cara Mengisi Waktu Luang dengan cara Positif
Kegiatan positif yang dapat dilakukan dalam waktu luang , bisa berupa olahraga, pergi ke tempat rekreasi hiburan bersama keluarga atau istirahat sepanjang hari dirumah dengan hiburan di televisi.

5. Self Directed
Dalam perkembangannya sebuah kontrol terhadap diri telah dibahas oleh beberapa ahli yang menganggap bahwa pada usia remaja kontrol diri sebenarnya sudah mencapai akhir perkembangannya, penelitian membuktikan bahwa kontrol diri yang rendah pada masa remaja berhubungan dengan kontrol diri yang rendah pula pada masa dewasa. Namun ahli lain mengatakan bahwa kontrol-diri dapat berkembang sepanjang kehidupan. Seperti yang dilaporkan oleh Fujita dkk,kontrol-diri dapat ditingkatkan melalui beberapa cara berfikir yang saling berhubungan :
1. Global Processing, mencoba fokus pada gambaran besar dari tujuan hidup atau cita-cita kita, sehingga setiap kegiatan atau tindakan kita dilihat sebagai bagian dari pencapaian tujuan akhir.
2. Abstract listening, mencoba menolak detil-detil dalam situasi khusus untuk membawa kita berfikir bagaimana tindakan kita sesuai dengan rencana kerja kita secara keseluruhan. Contohnya : seseorang mungkin harus mengurangi berfikir tentang detail-detail beratnya latihan fisik tetapi mencoba untuk fokus pada gambaran fisik yang ideal yang akan dicapai bila dia tetap menjalankan latihan dengan baik.
3.High-level categorization, berfikir tentang konsep tingkat tinggi daripada keadaan yang khusus atau sesaat. Kategorisasi tugas dapat membantu kita untuk mengatur fokus dan mencapai disiplin-diri yang lebih besar.
Beberapa hal diatas dapat diterapkan pada banyak situasi dimana pada saat itu dibutuhkan kontrol-diri.
Pendek kata ketiga cara berfikir diatas adalah cara yang berbeda untuk mengatakan hal yang sama yaitu : berfikir global, obyektif dan abstak , sehingga peningkatan kontrol-diri akan mengikuti kemudian.

Menetapkan Tujuan
Agar kita bisa menetapkan tujuan dengan baik, berikut ini mungkin beberapa langkah yang bisa membantu:
1.Pastikan bahwa itu yang benar-benar kamu inginkan. Saat menentukan Tujuan, pastikan bahwa itu sesuai dengan nilai-nilai hidup kamu. Yakinkan bahwa itu benar-benar berasal dari dalam diri kamu, bukan orang lain.
2.Gunakan statement positif. Ekspresikan tujuan kamu secara positif. Contohnya : “saya lulus kuliah tepat waktu (4 tahun)” daripada menggunakan “jangan sampai lulus lebih dari 4 tahun”
3.Gunakan kalimat bahwa kamu seakan-akan sudah mencapainya. Contohnya : “Awal tahun 2015 saya sudah mempunyai 10 cabang Franchise di seluruh Indonesia”
4.Buat prioritas. Saat kamu menetapkan beberapa tujuan, beri skala prioritas. Hal ini akan membantu kamu menentukan tujuan mana yang harus dicapai lebih dahulu. Untuk lebih detail nanti akan kita bahas dalam posting yang lebih mendalam
5.Tulis tujuan kamu. Salah satu rahasia orang-orang sukses adalah menulis setiap tujuan mereka. Saat kita mulai menuliskannya maka secara tidak langsung hal ini akan membantu kita mewujudkannya. Menuliskan sesuatu akan membantu mengklarifikasi pemikiran dan mengkristalkan gagasan kamu
6.“lihatlah dari yang paling mungkin, mulailah dari yang paling mudah dan LAKUKAN SEKARANG”. Yah, inilah saah satu kata ajaib yang saya temukan saat mendirikan Senyum Community. Saat saya memulainya, saya mempunyai tujuan besar, namun ternyata saya sadar untuk mendapatkan suatu yang besar kita harus memulai mendapatkan yang lebih kecil dahulu. Think Big, Start small!
7.Tentukan tujuan berdasarkan proses, bukan hasil akhir. Berhati-hatilah dalam menentukan tujuan. Ingat tidak semua yang kit inginkan dapat tercapai. Kegagalan adalah hal yang lumrah. Saat kita hanya mengingkan hasil akhir maka kita akan kurang menghargai dari proses yang telah kita lakukan. hal inilah yang terkadang membuat sebagian orang stress maupun depresi. Hargai setiap capaian yang telah kamu lakukan, karena saat kamu sudah memulai untuk menetapkan tujuan sebenarnya kamu sudah merupakan bagian dari tujuan kamu tersebut.
8.Gunakan rumus SMART. Tentukan tujuan dengan Spesific (spesifik), Measurable (dapat diukur), Attainable (dapat dicapai), Relevant (relevan), time bound (dibatasi waktu). Contohnya : “saya sudah keliling 5 benua pada Desember 2020”. Lebih detil lagi lebih bagus, Jangan sampai Cuma : “Saya ingin keliling dunia”

SUMBER :
Sukardi, Dewa Ketut.1987.Bimbingan Karir di Sekolah-Sekolah.Jakarta:Ghalia Indonesia
https://id.wikipedia.org/wiki/Pekerjaan
http://arie5758.blogspot.com/2011/10/pengaruh-kepribadian-terhadap-bidang.html
http://dw-arif-n.blogspot.com/2010/05/cara-jitu-menentukan-tujuan.html
http://niatnyagamaunulismalahcerita.blogspot.com/2010/05/meningkatkan-kontrol-diri.html

Sunday, June 2, 2013

Cinta dan Perkawinan

Cinta
Cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut.
Cinta dalam psikologi sosial mengutip pernyataan seorang ahli yaitu Stenberg , beliau yang mengenalkan Teori Segitiga Sternberg, yang terdiri dari tiga aspek: keintiman(intimacy), gairah(passion), dan komitmen(commitment).
Cinta yang sempurna adalah cinta yang memenuhi dari ketiga aspek tersebut. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing aspek.
Gairah (passion) cenderung terjadi pada awal hubungan, relatif cepat dan kemudian beralih pada tingkat yang stabil sebagai hasil pembiasaan.
Keintiman (intimacy) relatif lebih lambat dan kemudian secara bertahap bermanifestasi sebagai meningkatkan ikatan interpersonal. Perubahan keadaan dapat mengaktifkan keintiman, yang dapat menyebabkan intimacy menurun atau justru semakin naik.
Komitmen (commitment) meningkat relatif lambat pada awalnya, kemudian berjalan cepat, dan secara bertahap akan menetap. Ketika hubungan gagal, tingkat komitmen biasanya menurun secara bertahap dan hilang.
Perkawinan adalah ikatan sosial atau ikatan perjanjian hukum antar pribadi yang membentuk hubungan kekerabatan dan yang merupakan suatu pranata dalam budaya setempat yang meresmikan hubungan antar pribadi - yang biasanya intim dan seksual. Perkawinan umumnya dimulai dan diresmikan dengan upacara pernikahan. Umumnya perkawinan dijalani dengan maksud untuk membentuk keluarga.

Setiap kita yang sedang berada dalam hubungan pacaran (penjajakan dua pribadi sebelum melangkah ke tahap pernikahan) pasti menginginkan mendapat pasangan yang nantinya akan setia sebagai partner hidup kita.
berbagai tips banyak dikemukakan baik dari orang tua, para tokoh agama maupun ahli-ahli dalam berbagai bidang studi mengenai memilih pasangan, berikut kita akan membahasnya..
1. Rajin beribadah
Setiap kita pasti menginginkan satu orang untuk selamanya dalam mendampingi hidup kita. Kesetiaan seseorang tidak dapat kita pastikan sampai seberapa lama ia akan mampu bertahan, tapi disisi lain kita cuma manusia biasa yang tidak bisa memaksakan kehendak kita apabila partner kita sudah tidak sesuai atau mengkhianati hubungan . Oleh karna itu, nilailah mereka sebelum melangkah lebih jauh, alangkah baiknya jika ia lebih mencintai Tuhan dibandingkan kita, karna orang yang takut akan Tuhan akan menjalankan apa yang dikehendaki Tuhan-nya.
As a Christian, umat diperintahkan untuk menikah sekali saja, karna Allah sangat membenci perceraian. So, be careful :)

2. Sehat secara Jasmani
Pernah dengar nasihat kuno, kalau pilih jodoh, liat bibit, bebet dan bobotnya.
Orang tua jaman dulu sangat tepat mengemukakan hal ini.
Kalau membahas tentang kesehatan, semua orang ingin sehat dan juga pastinya ingin memiliki keturunan yang sehat tanpa adanya penyakit turunan dsb.
Penting untuk kita datang ke tempat cek kesehatan terdekat, dan memeriksakan kesehatan bersama pasangan yang ingin kita jadikan pasangan hidup kita.
Saling mengetahui riwayat penyakit, kesehatan fisik dan mental masing-masing adalah langkah awal untuk mencegah dan mengantisipasi penyakit tertular pada generasi kita berikutnya.

3. Sifat Materalisme
Para lelaki sering mengungkapkan banyak perempuan matre hari-hari ini. Sebenarnya ini merupakan hal yang wajar jika dalam konteks positif, mengapa? karena semakin hari semakin banyak jumlah manusia, dan akibatnya persaingan didunia kerja semakin kompetitif, dan apabila wanita tersebut merasa pasangannya tidak akan mampu membiayainya kelak bersama anak, maka hidup akan terasa berat dan jumlah kematian maupun populasi orang yang terganggu mental bertambah.
Maka dari itu perempuan umumnya harus lebih selektif dalam memilih pasangan pria yang akan hidup bersamanya kelak.
Jadi matre disini bukan hal-hal negatif yang menghamburkan uang pasangan untuk berfoya-foya dan membeli hal-hal yang tidak penting.
Bagi para pria yang suka berkata pada perempuan bahwa perempuan itu matre, berkacalah, kalian yang tidak mampu memenuhi standar. :)

Dawn J. Lipthrott, LCSW, seorang psikoterapis dan marriage and relationship educator and coach, mengemukakan lima tahap perkembangan dalam kehidupan perkawinan. 
  1. Tahap pertama : Romantic Love. ini terjadi pada saat Anda dan pasangan merasakan gelora cinta yang menggebu-gebu. Ini terjadi di saat bulan madu pernikahan. Anda dan pasangan pada tahap ini selalu melakukan kegiatan bersama-sama dalam situasi romantis dan penuh cinta. 
  2. Tahap kedua : Dissapointment or Distress. ditahap ini pasangan suami istri kerap saling menyalahkan, memiliki rasa marah dan kecewa pada pasangan, berusaha menang atau lebih benar dari pasangannya. Terkadang salah satu dari pasangan yang mengalami hal ini berusaha untuk mengalihkan perasaan stres yang memuncak dengan menjalin hubungan dengan orang lain, mencurahkan perhatian ke pekerjaan, anak atau hal lain sepanjang sesuai dengan minat dan kebutuhan masing-masing. Menurut Dawn tahapan ini bisa membawa pasangan suami-istri ke situasi yang tak tertahankan lagi terhadap hubungan dengan pasangannya.  Banyak pasangan di tahap ini memilih berpisah dengan pasangannya. 
  3. Tahap ketiga Knowledge and Awareness. pasangan suami istri yang sampai pada tahap ini akan lebih memahami bagaimana posisi dan diri pasangannya. Pasangan ini juga sibuk  menggali informasi tentang bagaimana kebahagiaan pernikahan itu terjadi. Pasangan yang sampai di tahap ini biasanya senang untuk meminta kiat-kiat kebahagiaan rumah tangga kepada pasangan lain yang lebih tua atau mengikuti seminar-seminar dan konsultasi perkawinan. 
  4. Tahap keempat Transformation. Suami istri di tahap ini akan mencoba tingkah laku  yang berkenan di hati pasangannya. Anda akan membuktikan untuk menjadi pasangan yang tepat bagi pasangan Anda. Dalam tahap ini sudah berkembang sebuah pemahaman yang menyeluruh antara Anda dan pasangan dalam mensikapi perbedaan yang terjadi. Saat itu, Anda dan pasangan akan saling menunjukkan penghargaan, empati dan ketulusan untuk mengembangkan kehidupan perkawinan yang nyaman dan tentram. 
  5. Tahap kelima :  Real Love. “Anda berdua akan kembali dipenuhi dengan keceriaan, kemesraan, keintiman, kebahagiaan, dan kebersamaan dengan pasangan,” ujar Dawn.  Psikoterapis ini menjelaskan pula bahwa waktu yang dimiliki oleh pasangan suami istri seolah digunakan untuk saling memberikan perhatian satu sama lain. Suami dan istri semakin menghayati cinta kasih pasangannya sebagai realitas yang menetap. “Real love sangatlah mungkin untuk Anda dan pasangan jika Anda berdua memiliki keinginan untuk mewujudkannya. Real love tidak bisa terjadi dengan sendirinya tanpa adanya usaha Anda berdua,” ingat Dawn.

    Alternatif selain pernikahan
    Jaman sekarang banyak pria maupun wanita yang sudah berumur tapi belum berstatus menikah. Alasan beragam pun dikemukakan, ada yang karena terlalu sibuk dalam bidang akademis, terlalu sibuk mengejar karir, atau belum merasa mapan untuk menikahi seorang wanita, trauma terhadap maraknya berita perceraian bahkan karena terlalu banyak menuntut kesempurnaan dari calon pasangan kelak.
    Seiring dengan perkembangan jaman, gaya hidup masyarakat modern pun kini kian berubah. Tuntutan perusahaan sekarang pun banyak yang menginginkan dan membutuhkan karyawan dengan status single terutama di fokuskan pada karyawati, alasan atasan perusahaan yang sering kita dengar adalah supaya tidak terganggu kinerja produktif dari karyawati tersebut. Dan hal seperti ini juga yang merupakan hasil dari emansipasi wanita, kini wanita pun dapat sejajar dengan pria, ini dapat dijumpai pada pemerintahan negara kita contohnya.

    Sumber :
    http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/keluarga/psikologi/lima.tahap.dalam.perkawinan/001/007/140/1/1
    http://id.wikipedia.org/wiki/Perkawinan
    http://id.wikipedia.org/wiki/Pacaran
    http://www.psikologizone.com/cinta-menurut-psikologi/065113807

Hubungan Interpersonal

  1. Menjelaskan model pertukaran sosial dan analisis interpersonal
    Model pertukaran sosial (social exchange model) memandang hubungan interpesonal sebagai suatu transaksi dagang. Orang berhubungan satu dengan yang lain karena mengharapkan sesuatu yang akan dapat memenuhi kebutuhannya. Thibault dan Kelley, dua orang pemuka utama dari model ini, menyimpulkan model pertukaran sosial sebagai berikut :
    "Asumsi dasar yang mendasari seluruh analisis adalah bahwa setiap individu secara sukarela memasuki dan tinggal dalam hubungan sosial hanya selama hubungan tersebut cukup memuaskan ditinjau dari segi ganjaran dan biaya."
    Ganjaran, biaya, laba, dan tingkat pebandingan merupakan empat konsep pokok dalam teori ini. Ganjaran dalam hal ini bersifat positif, seperti halnya uang dalam bentuk gaji, penerimaan sosial atau dukungan terhadap diri individu.
    Analisis transaksional merupakan teori kepribadian dan interaksi sosial yang dikembangkan oleh Eric Berne pada tahun 1961 dalam buku Transactional Analysis in Psychotherapy. Berne mengemukakan istilah ini bukan dengan istilah psikologi, satuan dasar dari perilaku tersebut ialah transaksi. Transaksi terjadi ketika seseorang memberitahu orang lain tentang informasi lewat kata-kata dan tindakan dan orang lain tersebut merespon.
    dengan kata lain, transaksi itu berisi stimulus , suatu bentuk penyampaian dan kemudian orang tersebut merespon.
    Tujuan dari analisis transaksional ini adalah otonomi yang diartikan sebagai kepedulian, spontanitas dan kemampuan untuk akrab/kedekatan. Analisis transaksional dapat terjadi pada komunikasi verbal maupun nonverbal, tekananan analisis transaksional menekankan pada komunikasi positif.
  2. Pembentukan kesan dan ketertarikan interpersonal dalam memulai hubungan
    Ellen Berscheid (Berscheid, 1985; Berscheid & Peplau 1983; Berscheid & Reis, 1998) memberikan analisisnya mengenai apa yang membuat orang-orang dari berbagai usia merasa bahagia, dari daftar jawaban yang ada, yang tertinggi atau mendekati tertinggi adalah membangun dan mengelola persahabatan dan memiliki hubungan yang positif serta hangat dengan orang lain disekitarnya. Tidak adanyanya hubungan yang bermakna dengan orang-orang lain akan membuat individu merasa kesepian, kurang berharga, putus asa, tak berdaya, dan keterasingan.
    Seorang ahli Psikologi Sosial, Arthur Aron juga menyatakan bahwa motivasi utama manusia adalah ’ekspresi diri’ (self expression). Penyebab ketertarikan ini awalnya dimulai dari rasa suka hingga rasa cinta yang berkembang menuju hubungan yang lebih erat, hal ini meliputi :
    • aspek kedekatan: proximity dan propinquity effect (semakin sering kita melihat dan berinteraksi dengan seseorang, maka semakin besar kemungkinan kita akan bersahabat dengan orang tersebut) 
    • adanya kesamaan : semakin kita mengenal seseorang tentu saja kita akan banyak mengetahui tentang orang tersebut. peneliti membagi hal ini dalam dua situasi sosial, closed field situation(situasi yang mendorong seseorang untuk melakukan interkasi, contoh dalam perkantoran) dan open field situation (keadaan dimana seseorang bebas menentukan ingin berinteraksi atau tidak).
      dalam hubungan percintaan, biasanya akan ditemukan banyak bentuk kesamaan seperti dalam hal kesamaan opini , dan kepribadian, minat maupun pengalaman.
    • kesukaan timbal balik
      Kita semua merasa senang disukai. Hal ini cukup kuat menimbulkan ketertarikan, tanpa harus ada kesamaan. Kesukaan timbal-balik kadang terjadi karena self-fulfilling prophecy. Hal ini ditunjukkan dalam eksperimen yang dilakukan oleh Curtis dan Miller (1986) dengan subjek mahasiswa.
    •  ketertarikan akan fisik dan rasa suka.
      Daya tarik fisik merupakan hal yang menentukan kesan pertama baik pada laki-laki maupun perempuan. Namun berbagai penelitian menunjukkan bahwa dibanding perempuan, laki-laki menilai daya tarik fisik lebih penting. Hasil penelitian meta-analisis (penelitian yang menganalisis lebih lanjut berbagai hasil penelitian yang topiknya sama) yang dilakukan oleh Feingold, 1990) menunjukkan bahwa bila yang diukur sikapnya, dibanding pada perempuan pada umumnya laki-laki menilai penampilan fisik leih penting; bagaimanapun juga bila yang diukur adalah perilaku aktual, antara laki-laki dan perempuan memberikan respon yang sama terhadap daya tarik fisik pihak lain.
  3.  Model peran , konflik, adequancy peran , autensitas dalam hubungan peran
    Role Model atau model peran adalah Hubungan interpersonal diartikan sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang memainkan peranannya sesuai naskah yang dibuat masyarakat. Hubungan akan dianggap baik bila individu bertindak sesuai ekspetasi peranan (role expectation), tuntutan peranan (role demands), memiliki ketrampilan (role skills) dan terhindar dari konflik peranan. Ekspetasi peranan mengacu pada kewajiban, tugas dan yang berkaitan dengan posisi tertentu, sedang tuntutan peranan adalah desakan sosial akan peran yang harus dijalankan. Sementara itu ketrampilan peranan adalah kemampuan memainkan peranan tertentu.
    Konflik
    Konflik dalam pembahasan hubungan interpersonal adalah pertentangan antar seseorang dengan orang lain karena adanya perbedaan kepentingan atau keinginan. Hal ini biasanya terjadi pada dua orang yang mempunyai perbedaan status, jabatan, bidang kerja dan lain-lain. Konflik interpersonal ini merupakan suatu dinamika yang sangat penting dalam perilaku organisasi.
    Adequancy peran serta autentisitas dalam hubungan peran
    Kecukupan perilaku yang diharapkan pada seseorang sesuai dengan posisi sosial yang diberikan baik secara formal maupun secara informal. Peran didasarkan pada ketentuan dan harapan peran yang menjelaskan apa yang individu harus lakukan dalam suatu situasi tertentu agar dapat memenuhi harapan-harapan mereka sendiri atau harapan orang lain menyangkut peran-peran tersebut.
  4. Intimasi dan hubungan pribadi
    Pendapat beberapa ahli mengenai intimasi, di antara lain yaitu :
    a) 
    Shadily dan Echols (1990) : intimasi sebagai kelekatan yang kuat yang didasarkan oleh saling percaya dan kekeluargaan.
    b)
    Sullivan (Prager, 1995) : intimasi sebagai bentuk tingkah laku penyesuaian seseorang untuk mengekspresikan akan kebutuhannya terhadap orang lain.
    c) 
    Steinberg (1993) : berpendapat bahwa suatu hubungan intim adalah sebuah ikatan emosional antara dua individu yang didasari oleh kesejahteraan satu sama lain, keinginan untuk memperlihatkan pribadi masing-masing yang terkadang lebih bersifat sensitif serta saling berbagi kegemaran dan aktivitas yang sama.
    d)
    Levinger & Snoek (Brernstein dkk, 1988) : intimasi merupakan suatu bentuk hubungan yang berkembang dari suatu hubungan yang bersifat timbal balik antara dua individu. Keduanya saling berbagi pengalaman dan informasi, bukan saja pada hal-hal yang berkaitan dengan fakta-fakta umum yang terjadi di sekeliling mereka, tetapi lebih bersifat pribadi seperti berbagi pengalaman hidup, keyakinan-keyakinan, pilihan-pilihan, tujuan dan filosofi dalam hidup. Pada tahap ini akan terbentuk perasaan atau keinginan untuk menyayangi, memperdulikan, dan merasa bertangung jawab terhadap hal-hal tertentu yang terjadi pada orang yang dekat dengannya.
    e)  
    Atwater (1983) : intimasi mengarah pada suatu hubungan yang bersifat informal, hubungan kehangatan antara dua orang yang diakibatkan oleh persatuan yang lama. Intimasi mengarah pada keterbukaan pribadi dengan orang lain, saling berbagi pikiran dan perasaan mereka yang terdalam. Intimasi semacam ini membutuhkan komunikasi yang penuh makna untuk mengetahui dengan pasti apa yang dibagi bersama dan memperkuat ikatan yang telah terjalin. Hal tersebut dapat terwujud melalui saling berbagi dan membuka diri, saling menerima dan menghormati, serta kemampuan untuk merespon kebutuhan orang lain (Harvey dan Omarzu dalam Papalia dkk, 2001).
    Bentuk-bentuk intimasi dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari seperti hubungan persaudaraan, persahabatan hingga percintaan. Berikut penjelasan mengenai bentuk-bentuk hubungan intim tersebut:
    1.    Persaudaraan
    Hubungan inti ini didasarkan pada hubungan darah. Hubungan intim interpersonal dalam persaudaraan terdapat hubungan inti seperti dalam keluarga kecil. Pada persaudaraan itu di dalamnya terkandung proximity dan keakraban.
    2.    Persahabatan
    Persahabatan biasanya dialami oleh dua individu yang didasarkan pada banyak persamaan. Utamanya persamaan usia. Hubungan dalam persahabatan tidak hanya sekedar teman, lebih dari itu diantara mereka terjalin interaksi yang sangat tinggi sehingga mempunyai kedekatan psikologis. Indikasi atau tanda-tanda bila dalam hubungan interpersonal terjadi persahabatan yaitu : sering bertemu, merasa bebas membuka diri, bebasmenyatakan emosi, dan saling tergantung diantara mereka.
    3.    Percintaan
    Persahabatan antara pria dan wanita bisa berubah mejadi cinta, ketika dua individu itu merasa sebagai pasangan yang potensial seksual. Dalam suatu persahabatan, dapat melahirkan satu proses yang namanya jatuh cinta. Hal ini terjadi karena ada dua perbedaan mendasar antara persahabatan dan cinta.

  5. Intimasi dan pertumbuhan
    Menurut Crooks & baur, (1983) ada beberapa tahapan perkembangan terjadinya intimasi, yaitu sebagai berikut :
    • Penerimaan diri
      Erikson dalam Crooks & Baur, (1983) percaya bahwa penerimaan diri yang positif adalah suatu persyaratan untuk suatu hubungan yang memuaskan. Dengan perasaan positif, individu yang dapat menerima diri dapat menjadi fondasi untuk menjalin intimasi di dalam hubungan.
    • Saling berinteraksi
      bila ada interaksi yang berjalan antara dua individu maka hal tersebut dapat menjadi dasar yang baik dalam suatu hubungan yang positif.
    • Memberi tanggapan
      Berbagai jenis respon atau tanggapan tertentu misalanya dengan individu saling mendengarkan, mengerti dan memahami maka keharmonisan dan kelestarian hubugan akan tetap terpelihara.
    • Perhatian
      Perhatian yang dicurahkan oleh individu dapat memotivasi pasangan dan menjaga kesejahteraan hubungan.
    • Rasa saling percaya bahwa pasangan akan berlaku secara konsiten, berusaha membina pertumbuhan dan mempertahankan stabilitas hubungan, maka keutuhan hubungan akan selalu terjaga.
    • Kasih sayang pengintepretasian kasih sayang kepada pasangan dapat meningkatkan jalinan intimasi antara satu sama lain.
    • Kemampuan untuk bergembira bersama pasangan
      Individu dapat mengutarakan kegembiraan dan kesenangan dengan cara menghabiskan waktu senggang bersama-sama.
    • Berhubungan seksual
      terkadang sepasang kekasih melakukan hal ini untuk mengekspresikan perasannya, namun jika melakukannya tanpa melalui tahapan-tahapan sebelumnya maka akan terjadi kedekatan emosional diantara keduanya.
      SUMBER :
      http://kk.mercubuana.ac.id/files/42013-2-853357679711.doc
      http://shafashan15.blogspot.com/2012/04/hubungan-interpersonal.html
      http://www.sarjanaku.com/2013/01/pengertian-peran-definisi-menurut-para.html
      http://nilam.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/30402/BAB+10.+DAYA+TARIK+INTERPERSONAL.pdf

Thursday, May 2, 2013

Fenomena yang Berkaitan dengan Psikologi

Banyak fenomena yang terjadi baru-baru ini dalam masyarakat yang erat kaitannya dengan teori psikologi. Dalam penulisan ini saya akan mengambil contoh dalam bidang psikologi pendidikan.
Kasus yang sedang marak tahun ini sepertinya mengenai Ujian Nasional.
Ujian Nasional yang diadakan pemerintah tahun 2013 ini, merupakan catatan sejarah terburuk yang pernah ada dalam bidang pendidikan. Mengapa ?
Karena pada awalnya niat awal pemerintah dengan mencoba melaksanakan ujian menggunakan 20 paket soal yang berbeda ini , memang dirasakan sangat sulit bagi para peserta. Kecemasan bertambah ketika banyak soal yang tersebar tidak merata di seluruh provinsi. Dan media pun menyelidiki kasus-kasus ini , setelah beberapa hal yang diselidiki, banyak kejanggalan yang dirasakan dan ini banyak diasumsikan masyarakat sebagai tindakan yang berkaitan dengan perilaku korupsi pada oknum-oknum yang terlibat.
Pelaksanaan ujian akhir di berbagai tingkatan pendidikan setiap akhir tahun ajaran, seringkali memunculkan pro-kontra kegunaannya. Perdebatan dan kritik makin gencar. Arsip surat kabar Sinar Harapan mencatat pendapat Fuad Hassan, Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan mantan Mendiknas, bahwa penilaian hasil belajar tidak hanya dilakukan dengan mengevaluasi hasil belajar, tetapi juga mencakup proses belajar mengajar yang dilakukan. Pelaksanaan UN hendaknya sebatas untuk mengetahui peta kualitas pendidikan di Indonesia. Melalui UN dapat diketahui sejauh mana kurikulum secara nasional tercapai, namun bukan menjadi penentu kelulusan siswa. Peningkatan kualitas pendidikan pun perlu disertai dengan peningkatan kualitas guru ketika mengajar. Kualitas pembelajaran seharusnya juga tidak dibebankan ke siswa dengan target nilai.
Para siswa di sekolah yang berfasilitas minim, bahkan jauh dari prasyarat pendidikan standar akan kesulitan menyesuaikan diri dengan standar nasional. 
Akibatnya juga berdampak negatif dimana guru memberitahukan kunci jawaban kepada siswa sehingga kelulusan siswa meningkat. Hal ini secara tidak langsung akan membentuk karakter negatif pada siswa.
Pakar Psikologi Pendidikan dapat berperan dalam membantu sekolah mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan perkembangan psikologi siswa sekaligus memberikan bimbingan bagi siswa yang menghadapi kendala dalam proses belajarnya, seperti menangani kecemasan siswa dalam menghadapi ujian.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada beberapa SMA di Indonesia yang memiliki program akselerasi, Guru Besar Psikologi UGM Asmadi Alsa menyimpulkan beberapa hal, diantaranya bahwa siswa akselerasi memang memperoleh percepatan dalam hal perkembangan secara kognitif, namun tidak dalam hal afektif dan psikomotoris (Pidato
Pengukuhan Prof. Asmadi Alsa dari www.ugm.ac.id). Namun begitu, aktivitas belajar yang padat dapat memacu siswa sehingga memiliki daya juang yang tinggi dalam belajar, karena memang tidak ditemukan adanya dampak negatif dari hal itu. Meski demikian, pemantauan pada semester awal menjadi amat penting dalam rangka melakukan tindakan lanjutan bagi
siswa yang ditemukan memiliki potensi tidak cukup mampu melakukan penyesuaian diri dengan tuntutan program maupun juga lingkungan akademik dan sosial yang baru (www.ugm.ac.id). Bagaimanapun, evaluasi terhadap program akselerasi di Indonesia harus terus dilakukan dari berbagai aspek. Keberhasilan akselerasi di negara lain tidaklah dapat menjadi pegangan, mengingat kondisi demografis dan sosio-kultural yang berbeda.

Stress

Stress...
banyak orang yang ketika mengalami masalah sedikit yang sebenarnya masih mampu ia hadapi , ia menyerah dan berkata , aku stress nih sama pelajaran atau tugas ..
nah , dari fenomena ini , kita akan membahas mengenai stress ..
apa sih itu stress ?
Stress adalah salah satu bentuk ketegangan fisik , psikis , mental dan emosi kita , ini disebabkan faktor ekstrenal seperti terlalu banyak masalah yang dipikirkan atau kurangnya kesadaran individu untuk menjaga kesehatan dalam menghadapi masalah.
yang menyebabkan stress pada seseorang disebut stressor dan ketegangan yang diakibatkan dalam psikologi disebut strain.
Bentuk stres ada 2 , yaitu stress positif(eustress) dan stress negatif(distress)
Para ahli mengatakan pendapatnya mengenai stress , antara lain demikian :
Menurut Woolfolk dan Richardson (1979) menyatakan bahwa adanya system kognitif, apresiasi stress menyebabkan segala peristiwa yang terjadi disekitar kita akan dihayati sebagai suatu stress berdasarkan arti atau interprestasi yang kita berikan terhadap peristiwa tersebut, dan bukan karena peristiwa itu sendiri.Karenanya dikatakan bahwa stress adalah suatu persepsi dari ancaman atau dari suatu bayangan akan adanya ketidaksenangan yang menggerakkan, menyiagakan atau membuat aktif organisme.
sedangkan, menurut Hans Selye stress merupakan respon tubuh yang tidak spesifik terhadap apapun bentuk permintaan untuk perubahan (Taylor, 2009). 
   Tahapan stress menurut Hans Selye " General Adaptation Syndrom"
Hans Selye berpendapat bahwa ketika suatu organisme berhadapan dengan stresor ia akan menggerakkan dirinya untuk bertindak. Respon yang dipamerkan berupa tidak spesifik dan tergantung kepada stresor tersebut. Dari waktu ke waktu, paparan stres yang berkepanjangan dan berulang akan merugikan sistem tubuh.



Selye’s GeneralAdaptation Syndrome terdiri dari 3 tahapan:
1) Alarm response, dimana tubuh kita pertama kali bereaksi terhadap stressor

2) Stage of resistance, terjadi akibat paparan stressor secara terus menerus dan akan terjadi adaptasi
3) Stage of exhaustion, terjadi karena paparan stressor yang sama akan tetapi dalam jangka waktu yang lama , dan pada tingkat resistensi tinggi memungkinkan untuk terjadinya homeostasis.

Jika stage of exhaustion terjadi dalam jangka waktu yang panjang dan berulang, Selye meyakini akan ada kelainan psikologis yang menyebabkan timbulnya suatu penyakit.(Brannon & Feist, 2007).

Terdapat beberapa faktor penyebab terjadinya stress 

Robbins (1998) mengemukakan faktor penyebab stress , sebagai berikut:


Faktor lingkungan
Dimana perubahan yang terjadi secara tidak pasti dalam lingkungan organisasi dapat mempengaruhi tingakat stres dikalangan karyawan. Contohnya: keamanan dan keselamatan dalam lingkungan pekerjaan, perilaku manejer terhadap bawahan, kurangnya kebersamaan dalam lingkungan pekerjaan.
Faktor organisasional
Seperti tuntutan tugas yang berlebihan, tekanan untuk menyelesaikan pekerjaan dalam kurung waktu tertentu.
Faktor individual
Situasi atau kondisi yang mempengaruhi kehidupan secara individual seperti faktor ekonomi, keluarga dan kepribadian dari karyawan itu sendiri. Menurut Sarafino (1994), faktor–faktor yang mempengaruhi stres kerja adalah:
  1. Tuntutan kerja yang terlalu tinggi, seperti pekerjaan diluar kontrol pekerja yang harus dilakukan secara berulang dan terus menerus, evaluasi lampiran kerja oleh atasan. 
  2. Perubahan tanggung jawab dalam kerja. 
  3. Pekerjaan yang berkaitkan dengan tanggung jawab terhadap nyawa orang lain, seperti pekerjaan tenaga medis dimana memiliki beban yang tinggi terhadap nyawa orang lain sehingga menyebabkan kelelahan psikis dan akhirnya menimbulkan stres. 
  4. Lingkungan fisik pekerjaan yang tidak nyaman. 
  5. Hobi interpersonal yang tidak baik dalam lingkungan kerja. 
  6. Promosi jabatan yang tidak adekuat. 
  7. Kontol yang padat terhadap pekerjaan.

    Kecemasan
    Kecemasan adalah salah satu bentuk stres ringan. kecemasan (Anxiety) sebetulnya merupakan reaksi normal terhadap situasi yang menekan. Namun dalam beberapa kasus, menjadi berlebihan dan dapat menyebabkan seseorang ketakutan yang tidak rasional terhadap sesuatu hal. Kecemasan berbeda dengan (fobia), karena tidak spesifik untuk situasi tertentu.


    Penanggulangan stres (Coping with stress)
    Setiap individu memberi respon yang berbeda terhadap stres. Penanggulangan stres merupakan pikiran dan perilaku yang dibutuhkan untuk mengelola permintaan secara internal dan eksternal yang ditafsirkan sebagai stres (Folkman & Moskowitz, 2004).
    Hubungan antara penanggulangan stres dengan kejadian stres adalah suatu proses dinamik (Folkman & Moskovitz, 2004). Jadi, penanggulangan stres bukan aksi yang berlaku sekali saja tetapi merupakan peristiwa yang berlangsung dari waktu ke waktu di mana individu dengan lingkungan saling mempengaruhi.
    Keperibadian seseorang dapat berpengaruh terhadap cara bagaimana individu tersebut menanggulangi peristiwa yang stres. 

    sedangkan  problem solving terhadap stress adalah  menggunakan metode biofeddback, tekniknya adalah mengetahui bagian-bagian tubuh mana yang terkena stress terlebih dahulu kemudian belajar untuk menguasainya. Tekhnik ini menggunakan serangkaian alat yang sangat rumit sebagai Feedback.
    Melakukan sugesti untuk diri sendiri juga dapat lebih efektif karena kita tahu bagaimana keadaan diri kita sendri. Berikan sugesti-sugesti yang positif, semoga cara ini akan berhasil ditambah dengan pendekatan secara spiritual.
    Untuk menigkatkan toleransi terhadap stress dapat dilakukan dengan cara menigkatkan keterampilan / kemampuan diri sendiri, baik secara fisik maupun psikis, misalnya secara psikis : menyadarkan diri sendiri bahwa stress memang selalu ada dalam setiap aspek kehidupan dan dialami oleh setiap orang, walaupun dalam bentuk dan intesitas yang berbeda. Secara fisik : mengkonsumsi makanan dan minuman yang cukup gizi, menonton acara-acara  hiburan di televisi, berolahraga secara teratur, melakukan tai chi, yoga, relaksasi otot, dan sebagainya.

    Daftar Pustaka
    -> http://www.psychologymania.com/2012/05/pengertian-stress.html
    -> http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31538/4/Chapter%20II.pdf
    -> http://www.psychologymania.com/2012/12/faktor-faktor-penyebab-stres-kerja.html
    -> http://www.duniapsikologi.com/kecemasan-pengertian-dan-faktor-penyebabnya/

Tuesday, April 30, 2013

Penyesuaian Diri


Penelitian psikologi mengenai Penyesuaian Diri sangat berkaitan dengan kesehetan mental, seperti judul buku Schneiders, A. (1964). Personal Adjustment and Mental Health. New York: Rinehart & Winston. Kabarnya buku ini hanya bisa kita dapatkan di perpustakaan fakultas psikologi Universitas Gadjah Mada. Jauh ya :)
Penyesuaian diri dalam istilah bahasa Inggris nya lebih dikenal dengan Personal Adjustment , mari kita mulai membahasnya..
  •  Pengertian
    Sebelum mengetahui lebih jelas pengertian penyesuaian diri, kita harus tau dulu nih, kata penyesuaian itu definisinya seperti apa sih ?
    penyesuaian merupakan proses dimana organisme mempertahankan keseimbangan kebutuhan dan keadaan dalam kehidupannya yang mempengaruhi kepuasan pada kebutuhan.
    Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penyesuaian diri adalah suatu bentuk konstruksi psikologi yang sebenarnya luas dan kompleks, serta melibatkan semua reaksi individu terhadap tuntutan baik dari lingkungan luar maupun dari dalam diri individu itu sendiri. Masalah penyesuaian diri menyangkut aspek kepribadian individu dalam interaksinya dengan lingkungan dalam dan luar lingkungannya.
    sedangkan Schneiders (dalam Desmita, 2009:192) mengungkapkan suatu proses yang mencakup respon mental dan tingkah laku, dimana individu berusaha untuk dapat berhasil mengatasi kebutuhan-kebutuhan dalam dirinya, ketegangan-ketegangan, konflik-konflik, dan frustrasi yang dialaminya, sehingga terwujud tingkat keselarasan atau harmoni antara tuntutan dari dalam diri dengan apa yang diharapkan oleh lingkungan dimana ia tinggal.

     
  • selanjutnya , apa saja bentuk-bentuk penyesuaian diri ?
    Menurut Gunarsa (dalam Sobur, 2003:529) bentuk-bentuk penyesuaian diri ada dua antara lain:
a. Adaptive
Bentuk penyesuaian diri yang adaptif sering kita kenal dengan istilah adaptasi. Bentuk penyesuaian diri ini bersifat jasmaniah, artinya perubahan-perubahan dalam proses jasmaniah untuk menyesuaikan diri terhadap keadaan lingkungan. Misalnya, berkeringat setelah berolahraga , merupakan proses penyesuaian tubuh terhadap proses metabolisme tubuh.
b. Adjustive
Bentuk penyesuaian diri yang lain bersifat psikis yaitu penyesuaian diri tingkah laku terhadap lingkungan yang dalam lingkungan ini terdapat aturan-aturan atau norma. Misalnya, jika kita harus pergi ke tetangga atau teman yang tengah berduka cita karena kematian salah seorang anggota keluarganya, sesekali kita dapat mengekspresikan wajah sedih atau wajah duka, sebagai tanda ikut menyesuaikan terhadap suasana sedih dalam keluarga tersebut.


Penyesuaian diri terbagi dalam dua hal :
Penyesuaian diri yang positif ditandai dengan beberapa ciri antara lain :
    1. Tidak menunjukkan frustasi pribadi
    2. Memiliki pertimbangan rasional dan pengarahan diri.
    3. Menghargai pengalaman
    4. Bersikap realistik dan objektif
Penyesuaian diri yang negatif , beberapa ciri antaranya adalah :
Ada tiga bentuk reaksi yang salah dalam penyesuaian diri yang salah yaitu: reaksi bertahan, reaksi menyerang dan reaksi melarikan diri. 
1. Reaksi bertahan
Dalam istilah psikologi sering disebut dengan deffense mechanism , dimana individu yang sedang dalam keadaan tertentu yang menurut dia mengancam eksistensinya, maka ia akan melakukan pertahanan atau individu akan berusaha mempertahankan diri, seolah- seolah tidak menghadapi kegagalan, ia selalu berusaha menunjukkan bahwa dirinya tidak mengalami kegagalan. contoh bentuk reaksi bertahan: 
> Rasionalisasi, yaitu bertahan dengan mencari- cari alasan untuk membenarkan tindakanya
> Represi, yaitu berusaha untuk menekan pengalamannya yang dirasakan kurang enak ke alam tidak sadar. Ia berusaha melupakan pengalamannya yang kurang menyenangkan. Misalnya seorang pemuda berusaha melupakan kegagalan cintanya dengan seorang gadis
> Proyeksi, yaitu melemparkan sebab kegagalan dirinya kepada pihak lain untuk mencari alasan yang dapat diterima. Misalnya seorang siswa yang tidak lulus mengatakan bahwa gurunya membenci dirinya. 
> Sourgrapes”(anggur kecut),yaitu dengan memutar balikkan keadaan. Misalnya seorang siswa yang gagal mengetik mengatakan bahwa  mesin tiknya rusak, padahal dia sendiri tidak bisa mengetik. 
> Reaksi Menyerang 
Penyesuaian diri yang salah menunjukkan tingkah laku menyerang untuk menutupi kegagalanya. Ia tidak mau menyadari kegagalanya. Reaksi- reaksinya dapat dilihat dalam tingkah laku seperti selalu membenarkan dirinya sendiri, ingin lebih dominan dalam setiap situasi, senang mengganggu orang lain, marah secara berlebihan, suka membalas dendam dsb. 
> Reaksi melarikan diri 
Dalam reaksi ini misalnya seseorang akan melakukan hal- hal seperti berfantasi dalam artian memuaskan keigininan yang tidak tercapai dalam bentuk angan- angan,  banyak tidur, minum- minuman keras, bunuh diri, menjadi pecandu narkotika, dan regresi yaitu kembali kepada tingkah laku yang semodel dengan tingkat perkembangan yang lebih awal.


selanjutnya , apa saja yang dapat mempengaruhi penyesuaian diri seseorang?  
3 penyebab yang dapat mempengaruhi penyesuaian diri , yaitu :
a. Lingkungan Keluarga
Lingkungan berperan penting dalam hal ini , baik itu lingkungan keluarga, sekolah, ataupun teman sebaya. Misalnya , kehangatan dalam keluarga yang diterima seorang anak dapat mempengaruhi perasaan dan kognitif , anak akan merasa nyaman , dan dia akan lebih menerima disiplin-disiplin yang diterapkan.
b. Lingkungan Sekolah
Metode atau cara mengajar yang digunakan oleh para pendidik dalam proses belajar mengajar sangat penting , ketika seorang guru dapat menjelaskan materi dengan santai, maka itu akan membuat pola penyesuaian diri anak tersebut ketika menghadapi soal atau mungkin masalah diluar itu sesuai dengan apa yang dia lihat dan terapkan dalam sekolahnya
c. Lingkungan Teman sebaya atau bermain
Teman sebaya merupakan media penting dalam kehidupan seseorang untuk membentuk persepsi sosial seorang anak, anak yang kurang bersosialisasi, cenderung tidak mampu melakukan penyesuaian diri yang baik terhadap lingkungan bermainnya.

  DAFTAR PUSTAKA 
- http://blog.um.ac.id/rizkya/2011/12/20/konsep-penyesuaiandiri-peserta-didik-usia-sekolah-menengah/
- Alex Sobur, 2003. Psikologi Umum. Bandung : Pustaka Setia
- Desmita, 2009. Psikologi Perkembangan. Bandung : Remaja Rosda Karya 

Thursday, April 4, 2013

Dimensi , Sejarah , Teori dan Pendapat dalam Kesehatan Mental



KESEHATAN MENTAL




                                                  Oleh :
Estherita Maya Stephanie
12511504 / 2 pa 11


UNIVERSITAS GUNADARMA
2013

Berbicara mengenai kesehatan , kesehatan sendiri sebenarnya bukan hanya mengenai kesehatan fisik , olahraga dan nutrisi . Sebuah integrasi yang penuh dari fisik , mental dan kesehatan spiritual harus terpenuhi dan seimbang . Disini kita akan membahas mengenai dimensi – dimensi kesehatan yang ada yang tergolong dalam 7 dimensi , dimana dimensi-dimensi tersebut masing-masing bekerja dan berinteraksi dengan cara memberikan kontribusi terhadap kualitas hidup individu .

A.  Konsep sehat berdasarkan Dimensi Sehat:

a.    Dimensi emosi (emotional wellness)
Dimensi ini merupakan sebuah kemampuan untuk mengerti diri kita sendiri sebagai individu dan menghadapi tantangan hidup . Kemampuan dalam pengetahuan dan berbagi mengenai perasaan , entah itu marah , sedih atau stress , sedangkan mengenai harapan , cinta , kesenangan dan kebahagiaan secara produktif akan memberikan kontribusi positif bagi kesehatan emosi .

b.    Dimensi intelektual (intellectual wellness)
Dimensi ini merupakan kemampuan untuk membuka pikiran ke ideologi baru dan pengalaman yang dapat diterapkan pada pengambilan keputusan personal  , interaksi kelompok dan komunitas . Keinginan untuk belajar mengenai konsep hal-hal yang baru , meningkatkan skill , dan mencari tantangan dalam mengejar keingintahuan dapat memberikan kontribusi positif bagi kesehatan intelektual .
 
c.     Dimensi sosial (social wellness)
Dasarnya sosial merupakan istilah yang berkaitan dengan orang lain di sekitar . Dimensi sosial berbicara mengenai kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain . Kemampuan kita membangun dan mempertahankan hubungan positif dengan teman , keluarga atau partner kerja berkontribusi bagi social wellness.

d.    Dimensi fisik (physical wellness)
Kemampuan untuk mempertahankan kualitas kesehatan hidup dimana fisik merupakan elemen penting yang kita butuhkan untuk menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa kelelahan dan stress fisik . Diakui bahwa perilaku kita mempunyai dampak yang signifikan terhadap kesehatan mental kita , maka kita harus membuat kebiasaan baru untuk hidup sehat , seperti rutin cek up , diet seimbang dan olahraga . Menghindari kegiatan destruktif yang merugikan  seperti merokok , memakai obat-obatan terlarang , dan mengkonsumsi alcohol akan menyebabkan fisik yang sehat dan optimal .

e.    Dimensi spiritual (spiritual wellness)
Kemampuan untuk membangun kedamaian dan harmonisasi dalam hidup . Kemampuan untuk membangun keselarasan antara nilai dan tindakan serta mewujudkan tujuan bersama yang mengikat satu sama lain akan menghasilkan kontribusi bagi spiritual wellness .


B.   Sejarah perkembangan Kesehatan Mental
Kesehatan mental merupakan gambaran sebuah level atau tingkatan dari psikologis seseorang . Perspektif dari holisme , kesehatan mental  mencakup kemampuan seseorang untuk menikmati hidup dan membuat keseimbangan antara aktivitas dan upaya untuk ketahanan psikologis . 
  • Sebelum tahun 1600
Orang Indian sering juga disebut penyembuh bagi orang yang mengalami gangguan mental dengan cara memanggil kekuatan supranatural dan menjalani ritual . Kepercayaan mereka yang masih sangat kuat terhadap roh-roh sangat mempengaruhi mental mereka , dan orang yang mengalami gangguan jiwa sering dibuang dan disingkirkan oleh masyarakat .  
  • 1692
Pengaruh Kristen mulai masuk dari para imigran di eropa . Orang yang mengalami gangguan jiwa tahun-tahun ini masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya , dibenci , dijauhkan atau dianggap terkena sihir
  • 1724
Cotton Mather sebagai pendeta membantah hal-hal yang berhubungan dengan sihir dan takhyul sebagai gangguan mental  . Dan pada masa ini , pengobatan medis untuk menangani kesehatan mental pun mulai diperkenalkan pada masyarakat.
  • 1820
Benjamin Rush , pengacara yang menangani masalah penyakit mental secara manusiawi . Ia juga mempublikasikan buku berjudul medical inquires dan observation upon disease of the mind .
  • 1843
Amerika telah mendirikan sekitar 24 rumah sakit dan 2000 lebih tempat tidur untuk menangani pasien yang mengalami gangguan mental .
  • 1900’n
Clifford beers memperkenalkan istilah mental hygiene .
Ia juga membaharui sistem keperawatan bagi masyarakat yang mengalami kesehatan mental . 
  • 1950
Dibentuknya NAMH (National Association of Mental Health ) untuk melanjutkan misi Beers dengan lebih jelas melalui media perantara , seperti televisi dan lainnya .

C.   Pendekatan Kesehatan Mental
Pendekatan yang digunakan dalam mempelajari kesehatan mental seseorang adalah ;
i)                  Orientasi Klasik 
Umumnya digunakan dalam ilmu kedokteran , khususnya psikiatri yang mengartikan sehat sebagai kondisi dimana ketidak adaan keluhan terhadap fisik maupu mental orang tersebut . Konteks dalam pendekatan ini tidak bisa dipisahkan dari lingkungan tempat individu itu berada .
Ukuran kesehatan mental juga dapat diukur melalui hubungan antara individu dengan orang lain disekitarnya .
ii)                Orientasi Penyesuaian diri
Sehat atau tidaknya seseorang secara mental belakangan ini lebih ditentukan oleh kemampuan penyesuaian diri . Penyesuaian diri merupakan dasar bagi penentu derajat kesehatan mental . Orang – orang yang tidak mampu menyesuaikan diri secara aktif , tidak realistis dan tidak stabil merupakan petunjuk bahwa rendahnya kesehatan mental  pada individu .
Beberapa dari uraian yang terdapat dalam teori Rogers , Maslow menunjukkan bahwa kepribadian yang sehat selalu ditandai dengan keinginan untuk tumbuh dan berkembang , dan realistis .
iii)             Orientasi Pengembangan Potensi
Pengembangan potensi dalam diri individu sangat dipengaruhi oleh peranan keluarga , teman sebaya , sekolah dan masyarakat . Pengembangan potensi ini dapat diukur melalui seberapa besar kreativitas nya melalui minat yang dipunyai .


D.  Teori Kepribadian Sehat menurut beberapa aliran dan tokoh
  • Aliran psikoanalisa
Sebagaimana yang kita tahu , bahwa aliran ini sangat berhubungan dengan teori-teori dari Sigmund Freud.
Freud membagi  pemikiran dalam Consiousness (kesadaran) , preconsiousness (bawah sadar) dan unconsciousness (ketidak sadaran ).
Freud juga mengemukakan dalam tidak sadar ini ada struktur kepribadian yaitu:
o   Id (das es): energi psikis yang memikirkan kesenangan saja
o   Ego(das ich) : pengawas realitas
o   Super ego(das ueber ich) : berisi kaidah-kaidah , moral dan nilai-nilai sosial yang diserap individu dari lingkungannya .
Kepribadian yang sehat menurutnya ialah jika individu bergerak menurut pola perkembangan yang ilmiah dan tergantung bagaimana hasil belajar individu dalam mengatasi tekanan dan kecemasan .

  • Aliran behaviouristik
Menurut aliran ini perilaku nyata dan terukur bukan suatu perwujudan dari jiwa ataupun mental yang abstrak .
Aspek mental yang tidak memiliki bentuk fisik dan ini harus dihindari .
Kepribadian yang sehat juga harus didukung dengan mementingkan lingkungan dan menekankan pada pola tingkah laku yang nampak dengan menggunakan metode objektif .

  • Aliran Humanistik
Aliran ini sangat mementingkan diri(self) manusia sebagai pemersatu yang menerangkan pengalaman subjektif-individual , yang dapat menentukan tingkah lakunya secara aktual atau dapat diamati.

  •  Pendapat Gordon Allport
Konsep diri (self) merupakan suatu bagian yang penting dalam tiap pembahasan mengenai kepribadian .
Tetapi karena Allport ingin menghilangkan kontradiksi dan kekaburan yang terkandung dalam pembiacaraan tentang self , jadi Allport mengganti kata self dengan Propirium. Propirium diambil dari kata propriate atau seperti kata appropriate .
Perkembangan Propirium ini terjadi mulai dari bayi sampai adolescence yang terdiri dari 7 tingkat dan merupakan prasyarat keribadian sehat . Perkembangan kepribadian yang sehat dengan 7 kriteria tersebut ialah :
1.    Perluasan diri
Mula-mula individu berpusat pada diri sendiri , kemudian ketika bertumbuh maka diri akan bertambah luas meliputi nilai dan cita yang abstrak , atau dengan kata lain mengembangkan perhatian di luar diri .
2.    Hubungan diri yang hangat dengan orang – orang lain
Allport membagi kehangatan dalam dua bentuk yaitu kapasitas untuk keintiman dan kapasitas untuk perasaan terharu . Dalam kapasitas keintiman cinta dari orang-orang sehat adalah tanpa syarat , tidak melumpuhkan dan tidak mengikat . Kapasitas perasaan terharu menghasilkan kepribadian yang matang sabar terhadap tingkah laku orang lain karena menerima kekurangan manusia yang sama seperti dirinya .
3.    Keamanan emosional
Sifat ini mementingkan kualitas , kualitas yang paling utama adalah penerimaan diri . Kepribadian yang sehat mampu menerima semua segi dari yang ada di diri mereka , termasuk kelemahan dan kekurangan tanpa menyerah secara pasif pada kelemahan atau kekurangan tersebut. Serta mampu menerima emosi-emosi manusia , dapat mengontrol emosi mereka sehingga tidak mengganggu aktifitas mereka .
Kualitas lainnya adalah , ‘sabar terhadap kekecewaan’ , ini menunjukkan bagaimana seseorang bereaksi terhadap tekanan dan hambatan dari keinginan atau kemampuan mereka . 
4.    Persepsi realistis
Orang yang berkepribadian sehat mempunyai pandangan secara objektif , dan menerima realitas sebagaimana adanya .
5.    Keterampilan – keterampilan dan tugas-tugas
Mampu melakukan dan menyelesaikan tugas dengan dedikasi , komitmen dan keterampilan-keterampilan merupakan pencapaian kematangan dan kesehatan psikologis yang optimal .
6.    Pemahaman diri
Kepribadian yang sehat mampu mencapai suatu tingkat pemahaman diri yang lebih tinggi daripada orang-orang neurotis . Orang yang memiliki suatu tingkat pemahaman diri yang tinggi atau wawasan diri tidak mungkin memproyeksikan kualitas-kualitas pribadinya yang negatif kepada orang lain.
7.    Filsafat hidup yang mempersatukan
Orang-orang yang sehat mempunyai pandangan yang selalu menatap ke depan , didorong oleh tujuan-tujuan dan rencana jangka panjang .
Suara hati memegang peranan khusus disini . Suara hati yang matang dan yang neurotis atau tidak matang mempunyai perbedaan , seperti ; suara hati yang tidak matang bercirikan “harus” bukan “sebaiknya”, sedangkan orang yang sehat “saya sebaiknya bertingkah laku seperti ini” . Ini  berarti suara hati yang matang merupakan suatu perasaan kewajiban dan tanggung jawab kepada diri sendiri atau kepada orang lain.

  •   Pendapat Carl Rogers
Rogers dikenal mengembangkan model terapi client-centered . Rogers mempunyai sebutan bagi orang dengan kepribadian sehat yaitu orang yang berfungsi sepenuhnya.
Orang yang berfungsi sepenuhnya mempunyai sifat khusus , antara lain :
1.    Keterbukaan pada pengalaman
Ini merupakan lawan dari sikap defensive . Orang dengan keterbukaan pada pengalaman ini dapat mengetahui segala sesuatu tantang kodratnya , berkepribadian fleksibel , tidak hanya mau menerima pengalaman-pengalaman yang diberi kehidupan tetapi juga menggunakannya dalam membuka kesempatan persepsi atau ungkapan baru.
2.    Kehidupan eksistensial
Orang yang berfungsi sepenuhnya ialah yang hidup sepenuhnya dalam setiap momen kehidupan .
Orang yang dapat menyesuaikan diri karena struktur diri yang terus menerus terbuka pada pengalaman – pengalaman baru.
3.    Kepercayaan terhadap organisme orang sendiri
Orang yang berfungsi sepenuhnya dapat bertindak menurut impuls-impuls yang timbul seketika dan intuitif . Dan karena orang sehat ini terbuka pada pengalamannya , maka dia memiliki jalan masuk untuk seluruh informasi yang ada dalam situasi untuk membuat suatu keputusan . Ia juga akan membiarkan seluruh organisme mempertimbangkan setiap segi dari suatu situasi , sehingga keputusan yang diambil akan memuaskan semua segi situasi dengan baik .
4.    Perasaan bebas
Orang yang sehat psikologis mengalami kebebasan untuk bertindak dan memilih , tanpa adanya paksaan atau rintangan antara alternative pikiran dan tindakan .
Orang ini juga memiliki suatu perasaan berkuasa terhadap kehidupannya dan percaya bahwa masa depan tergantung pada dirinya .
5.    Kreativitas
Semua orang yang berfungsi sepenuhnya sangat kreatif.
Orang-orang yang kreatif dan spontan tidak terkenal karena konformitas atau penyesuaian diri yang pasif terhadap tekanan-tekanan sosial dan kultural , mereka juga tidak menghiraukan nkemungkinan tingkahlaku mereka diterima atau tidak , tetapi mereka umumnya dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan-tuntutan dari situasi khusus .

  • Pendapat Abraham Maslow
Manusia memiliki dorongan-dorongan kepribadian yang sehat dan pada dasarnya semua manusia memilikikecenderungan untuk mengaktualisasikan diri .
Teori Maslow yang terkenal mengenai kepribadian adalah mengenai 5 kebutuhan dasar pada manusia , tiap kebutuhan yang rendah telah terpuaskan maka individu akan mencapai tingkat berikutnya dan berakhir pada tingkat aktualisasi diri .
Pertama , kebutuhan – kebutuhan fisiologis , adalah kebutuhan yang jelas terhadap makanan , haus dan seks . Pemuasan akan itu sangat penting untuk kelangsungan hidup seorang manusia .
Apabila kebutuhan tersebut telah terpenuhi dengan baik , maka kita didorong oleh kebutuhan kedua rasa aman , kebutuhan ini meliputi kebutuhan akan jaminan , stabilitas , perlindungan , ketertiban , dan bebas dari ketakutan dan kecemasan .
Selanjutnya manusia akan didorong untuk memuaskan kebutuhan selanjutnya yaitu mencintai dan dicintai , setelah itu berhasil , kita akan membutuhkan perasaan butuh akan penghargaan , baik itu dari orang lain maupun penghargaan terhadap diri sendiri . Penghargaan dari luar dapat berupa reputasi , status , popularitas , prestise atau keberhasilan dalam masyarakat .
Akhirnya , ketika keempat kebutuhan itu terpenuhi , maka semua manusia akan mencoba mencapai kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri , dimana ini merupakan tingkatan paling tinggi dan mengunakan seluruh bakat , kualitas dan kapasitas yang ada dalam diri kita .

  •  Pendapat Erich Fromm
From berpendapat bahwa kesehatan psikologi sama berharganya dengan sebuah kebahagiaan yang pernah kita dapati . Baginya orang – orang yang sehat memuaskan kebutuhan psikologisnya secara kreatif dan produktif .
5 kebutuhan dari dikotomi kebebasan dan keamanan menurut Fromm ;
o   Hubungan
Cara yang sehat untuk berhubungan dengan dunia ialah melalui cinta , dengan cinta rasa kebebasan dan keamanan akan terpuaskan .
Disini bukan hanya membicarakan cinta yang erotis melainkan hubungan cinta yang sering kita lihat antara ibu dengan anak atau cinta kepada diri sendiri .
o   Transdensi
Fromm mengemukakan dalam perbuatan menciptakan anak , ide,kesenian atau barang-barang material , manusia sedang mengatasi kodrat eksistensi yang pasif dan eksidental dan dengan ini akan mencapai perasaan akan maksud dan kebebasan .
o   Berakar
Cara yang ideal , dengan membangun suatu perasaan persaudaraan sesama umat manusia , suatu perasaan keterlibatan , cinta dan partisipasi dalam masyarakat .
Perasaan solidaritas akan memuaskan kebutuhan ini untuk berakar , berkoneksi dan berhubungan dengan dunia .
o   Perasaan identitas
Kebutuhan manusia akan perasaan identitas sebagai individu yang unik , hal perasaan tentang dia , siapa dan apa adalah sangat penting .
Cara untuk memuaskannya adalah dengan individualitas , ini akan mengakibatkan berkembangnya kepribadian mereka dengan mengontrol kehidupan mereka sendiri .
o   Kerangka orientasi
Dasar yang ideal untuk kerangka orientasi adalah pikiran , yang digunakan orang untuk mengembangkan suatu gambaran yang realistis dan objektif tentang dunia .

From juga memberikan gambaran mengenai kodrat kepribadian sehat , sebagai berikut :
o   Orientasi Produktif , mempunyai konsep yang sama dengan kepribadian yang matang menurut Allport .
-         Cinta yang produktif ; hubungan manusia yang bebas dan sederajat dimana partner-partner dapat mempertahankan individualitas mereka .
-         Pikiran yang produktif ; meliputi kecerdasan , pertimbangan , dan objektivitas .
-         Kebahagiaan ;  suatu bagian integral dan hasil kehidupan yang berkenaan dengan orientasi produktif , kebahagiaan itu sendiri menyertai seluruh kegiatan produktif  .
-         Suara hati ; dibagi dua , suara hati otoriter yang merupakan penguasa dari luar yang diinternalisasi juga memimpin tingkah laku orang tersebut . Sedangkan suara hati humanistis berasal dari diri bukan dari perantara dari luar
o   Orientasi reseptif , merupakan penerima – penerima yang pasif dalam hubungannya dengan orang lain .
o   Orientasi eksploitatif , orang yang diatur dari sumber luar , bukan menunggu menerima  tetapi terdorong mengambil sesuatu dari orang dengan kekerasan dan tipu muslihat .
o   Orientasi penimbunan , orang – orang yang tidak mengharapkan dari luar dan juga tidak menerima dan mengambil
o   Orientasi pemasaran , kepribadian atau diri hanya dinilai sebagai suatu barang dagangan yang dijual atau ditukar untuk sebuah keberhasilan , kita dapat melihat fenomena ini dalam masyarakat kapitalis seperti yang ada di Amerika serikat .


 Sumber-sumber
  •  Schultz, D.(1991).Psikologi Pertumbuhan: Model –model Kepribadian Sehat.Alih Bahasa: Yustinus.Yogyakarta:Kanisius
  •  Hall, Callvin S.(1993).Psikologi Kepribadian 2: Teori-Teori behavioristik.Alih Bahasa: Supratiknya.Yogayakarta:Kanisius
  • Hall, Callvin S.(1993).Psikologi Kepribadian 3: Teori-Teori Holistik. Alih Bahasa: Supratiknya.Yogyakarta:Kanisius